Langsung ke konten utama

Bayi Cower


Sebab aku hobi mendengar cerita orang, akibatnya aku terharu sendiri mendengarnya, ternyata cerita yang ku dengar itu adalah kisah ku.

Ada banyak yang bilang kalau semua bayi yang baru lahir itu menggemaskan. Banyak sekali. Tapi itu tidak terjadi pada diri seorang Isma, yang dianggap menggelikan, menyusahkan, merepotkan, dan sangat memuakkan. Ya begitulah kesimpulan yang dapat ditarik setelah kebanyakan dari mereka yang menyaksikan kelahiranku, menceritakan tentangku.


"Koe itu bayi cower. Amet-amet jabang bayi," Untunglah aku baik, aku akan menerjemahkan ini secara gratis. 
Re(arti) ; Kau itu bayi cower. Jangan sampek nurun aku (anak ku). 

Mama sungguh nekat, menjelaskan tanpa diminta. Katanya cower itu bayi yang baru aja lahir, tapi langsung nangis. Aku mematahkan, _Ma, semua bayi lahir nangis. Mana ada yang lahir langsung ketawa_!  Ia menyambung, "Ampun lah isma. Kaulah yang nangisnya terus-terusan. Udahlah mama sakit sampek 5 bulan gara-gara ngelahirin kau"

Terjawab, ya. Kenapa aku dari remaja sampek dewasa gini susah untuk nangis. 

Jangan sampai bagian ini sudah ingin menghubungi ku, nyantai aja, aku masih belum terharu. Padahal sudah dikata mama sakit gara-gara kelahiran ku. Aku lebih terharu ketika mama bilang sesuatu. Dan bukan hanya mama, tapi ayah, saudara, bahkan tetangga. Bisa jadi orang mendengar kabar itu akan berkata hal yang sama. 

Ketika aku dinobatkan sebagai bayi cower yang tidak diberi ASI, tidak mendapat pelukan seorang ibu, dan tidak dipanggil nak, oleh ibu, karena mama katanya sakit, akupun di asuh habis-habisan sama ayah. Kalau kata mengkeknya, aku manggil dia Yaek. 

Ayah bilang, aku menangis karena aku lapar, faktor badanku yang gemuk (ketika bayi) membuat dia menyimpulkan aku menangis karena aku lapar. 

Bayangkan, anak baru lahir, dikasih minum teh manis. Bayangkan, anak yang baru lahir ke dunia, masih imut-imut nya, udah dikasih makan roti ATB. (Kalau kau tau roti mari, itulah dia).
Manusia lain pun tak yakin dengan wajah seperti ini ternyata dulunya tak meminum ASI dan sudah diberi asupan ATB. 

Jika sudah berhasil membayangkan, silahkan kalau berminat, kaitkan itu pada bayi yang baru lahir bernama Isma. Iya, itulah fakta yang ku dapat dari sumber valid. Dari ayah, mama, dan semua yang menyaksikan masa suram bayiku. Luar biasa bukan, inisiatif ayah yang memberiku makan roti dan teh manis pada saat aku baru dilahirkan?

"Herannya, kok hidup lah anak ku sampe sekarang, mukjizat kali memang ya Allah," Nah, ini kalimat yang di tutur mama. Membikin terharu ku muncul tiba-tiba. Dia heran woy ngeliat anaknya masih hidup!!! 

Kakakku yang seorang perawat dan sekarang sedang memiliki anak bayi, juga bilang demikian, "Bahaya kali lo anak bayi udah dikasih kek gitu, masih hidup pulak kau ya,".

Ditambah lagi ayah bilang kalau aku ini sudah dirawat juga oleh tetangga-tetangga ku yang beragama nasrani. Kalau orang sana bilangnya aku punya banyak opung. Maka tak heran aku disebut sebagai orang batak, menyukai hal berbau batak, dan mudah akrab dengan orang batak.

Efek mama yang sakit berbulan-bulan, membuktikan bahwa cinta ayah ke mama dan anaknya sangat jelas. Ia sangat sabar dan benar-benar ikhlas menjadi sosok ayah. Dan efeknya juga terkena padaku. Entah karena terlalu menggemaskan nya aku ini, atau karena kasihan melihatku yang diperlakukan seperti bukan seorang bayi, banyak orang yang meminta kepada ayah agar aku diangkat menjadi anak angkat mereka. 

Ada yang menawarkan dengan jumlah uang, ada juga menawarkan dengan iming-iming masa depan cerah, dan janji dengan rencana aku menjadi anak sehat, namun ayah menolak. Ewkwk. Aku jatuh cinta pada kalimatnya, 

"Tetap ayak tolak kau dimintai banyak orang," Aih mudahnya aku jatuh cinta, kalimat yang enggak romantis itupun aku sukai. 

Tetap, dia sosok yang bikin aku terharu-haru gak karuan. Ada? Yang bisa seperti dia. Haha.

Sudah-sudah, aku hanya ingin mengingatkan, tetaplah bersyukur. 
Lihatlah, apa itu pesta ulang tahun? 

Walau kalian adalah sepertiku, yang bukan lahir sebagai bayi menggemaskan, bukan lahir sebagai bayi yang menikmati ASI (sampai kalian sebodoh sekarang), tetaplah bersyukur. 

Apalagi saat kalian diperebutkan, disyukuri, dan sangat di sayangi. Setidaknya itu adalah prestasi di waktu bayi. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Sikap diDepan Kue Raya

Ada istilah, orang zaman dulu dan orang zaman sekarang. Kalau orang zaman dulu tandanya dia sudah tua dizaman sekarang. Dan orang zaman sekarang, dia sudah modern, tidak seperti orang zaman dulu yang dikenal kuno. Dalam tradisi hari raya idul fitri, juga sering terlintas kalimat yang barangkali tak sengaja ditutur " Dari tahun ketahun ini aja kuenya". Tak perlu menggeleng, ini hanya untuk yang sependapat denganku. Hal yang ditunggu bagi orang yang halal-bihalal selain THRnya, ialah melihat kue-kuenya. Yang tersaji diatas meja dengan sajian unik diatas tempat kue. Entah itu tempat kue kaca, ataupun plastik. Kalau kalian semodel atau sesikap denganku, apa yang pertama kalian lakukam ketika sampai ketempat saudara atau tetangga? Aku menjawab, aku akan membuka semua tutup tempat kue yang ada didepanku. Itu sudah ku anggap tradisi setiap datang kerumah-rumah. Sejak kecil, kebiasaan itu terus terjadi sampai aku dewasa seperti ini. Bukan perihal aku doyan dan aku memakan semuany...

Bukan Sekadar Maaf

Lebaran, merupakan klimaks nya umat muslim disaat bulan ramadan. Banyak hal yang sudah dilewati setiap muslim selama berpuasa. Dan perihal ibadah selama dibulan ramadan, mari kembalikan kepada Allah. Jika membahas soal lebaran, apa yang tersirat selain baju baru, thr, dan mudik? Benar, itulah tradisi bermaaf-maafan. Aku pernah bertanya kepada seorang temanku, kenapa dia kemaren meminta maaf atas semua kesalahan yang ia perbuat terhadapku, namun setelahnya ia kembali lagi membuat kesalahan yang itu bukan tanpa disengaja. Kenapa? Dan dengan singkat dia menjawab,  "Kan kemarin lebarannya". Aku terdiam,  dan hanyut pada kebingungan. Sampai sekarang, aku tak pernah lagi menanyakan hal demikian kepada temanku yang lainnya. Malah yang ada, aku takut mendapat kalimat demikian lagi. Kalau soal lebaran, dalam islam juga dikatakan bahwa lebaran itu mempertandakan bahwa kita umat islam akan segera kembali ke fitrah. Tanda bahwa kita akan menjadi muslim yang baru. Maka dari itu semua ...

Perempuan, Aku Tau Kita Rumit. Tapi Jangan Menyusahkan.

Benar-benar lelah harus bagaimana merespon perempuan.  Benar-benar kesal bagaimana bertanya tanpa menyinggung perempuan.  Benar-benar heran bagaimana menjawab tanpa menyakiti perempuan.  Dan benar-benar letih, bagaimana sebaiknya bersikap di atas kata Hargai Perempuan. Tapi,  "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13) Bukan hanya perkara berpasangan dengan perempuan, tapi hubungan dengan ibu, teman, saudari, keluarga perempuan, pasti selalu menemukan hal-hal yang bikin, "Segitunya jadi perempuan". Siapapun, kita butuh perempuan. Siapapun kita butuh sosok ibu. Siapapun, kita butuh kita menjadi perempuan yang benar-benar paham akan kodrat, tanggungjawab, dan sebenarnya tak...