Katanya reporter tangguh, masa galau naskahnya dikembaliin? Bukannya awal dari keberhasilan adalah kegagalan?
Nostalgia Sejenak.
Pemred: "Apa ini kekgini tulisan? Ganti. Ini lagi ini judulnya. Apa coba kekgini,"
Isma: "Judulnya bukan awak lo bang yang buat,"
Pemred: "Masih bisa ngejawab,"
(Isma diam melihat tangan Pemred yang masih asik nyoreti naskah)
Pemred: "Besok harus siap. Kalau gak siap, abang koyak koyak nanti itu tulisanmu,"
Isma: "Kekmana abg mau ngoyak, kan Isma nulisnya di laptop,"
Pemred: "Iya, biar abang koyak-koyak itu laptopmu. Abang patahkan depanmu,"
(Isma cuma bisa meluk laptop sekuat-kuatnya)
Kru 1: Ya Allah Isma. Udahlah, jangan ngelawan kenapa.
Kru 2: Bandalan si Isma ini.
Kru 3: Wi bg *** gak pernah marah lo.
Kru 4: Sabar bang sabar.
***
Masih ingat aja, baru juga terpilih jadi reporter junior, sudah habis kena marah. Iya saya sadar, kemarin saya kurang bahan tulisan. Jadi saya agak nakal menulis liputan itu agak mendayu-dayu manja hahaa. Itu liputan dinamit, dinamit itu buletin yang isinya berita panas. Begitulah.
Dua minggu sebelumnya-
Saya dimarahi karena saya gak liputan tapi cuma duduk di sekret ketawa-ketawa. Wah.
Pemred : "Ngapain di sini? Liputan sana. Ke biro sekarang, cari berita Libur UIN,"
(Spontan saya bergegas dan pergi. Semua mata kru tertuju pada saya. Aih. Kenapa nasib reporter segininya. fikir saya, karena saya hanya seorang diri).
Saya lanjut curcol, saya pun langsung ke biro. Beberapa menit saya di sana, ternyata narsum yang di maksud gak ada ditempat. Awalnya saya bingung-bingung karena saya hanya sekali ke biro, itupun sama reporter junior juga-_
Dan sekarang saya harus ke biro lagi sendirian, dengan modal sok tau cari narsum dan pertanyaan sendiri. Siap, saya pun sampai di biro.
(Bid.Akademik lagi ada tamu)
Inisiatif, saya balik ke sekret. Belum duduk, saya langsung dibentak.
"Ngapain? Uda dapat beritanya?" senggak Pemred.
"Ibuk itu lagi ada tamu bang," jawab saya.
"Tunggu di sana. Jangan di sini. Jam berapapun tamunya pulang, pokoknya harus di sana aja," ketusnya. Daripada berlama mendengar marahnya, saya pun balik ke biro.
Ini nih, setelah sekian lama menantikan narsum, akhirnya bisa juga. Tak lama kemudian, wahhh saya kena marah di ruangan itu. Tiga orang memarahi saya. Belum juga mulai-_
"Ngapain libur UIN? Kamu mau libur. Kalau mau libur, libur sendiri sana"
"Kamu capek liputan mangkannya nanya libur?"
"Apa yang mau diliput? Kan belum keluar jadwalnya. Tunggu ajala"
"Simpang siur apa? Udah udah, balik lah sana"
Tadinya saya menjawab pertanyaan mereka. Tapi saya akhirnya diam, karena teringat nasihat kalau orang tua marah itu diam aja. Jadi saya balik sekret tangan kosong.
"Udah?" Pemred kembali menegur. Padahal, saya masih di depan pintu sekret.
"Mereka gak mau diwawancarai bang, dimarahin nya awak bang," tingkah manja saya akhirnya keluar. Sambil sedikit ketakutan.
"Cari sampai dapat. Jangan datang ke sekret kalau liputan nya belum ada," ketusnya lagi.
"Bang kekmana mau ada? Narsum nya aja gak mau diwawancarai," ya saya meninggikan suara.
Semua kru menatap tepat ke arah saya. Saya sadar, saya masih anak baru. Kok udah berani ngelawan. Pemred hanya melirik dengan amarahnya. Akhirnya saya keluar dari sekret. Saya luntang-lantung. Saya lupa ketika itu menuju mana.
Liputan akhirnya saya tulis, setelah dinasehati tedok dan diberi solusi. Tapi tidak diterima redol. Karena, "Dik, makasih ya perjuangannya. Akhirnya ditulis juga. Tapi gak usah kita naikkan lagi ya, itu tulisan adik informasinya gak dapat dari narsum, tapi dari kalender akademik, dan kutipan narsum terlalu bahaya kalau kita masukkan ke berita, isma kurang bahan,".
Huh saya pun lega. Tulisan saya ditolak setelah saya sudah berjuang wkwk. Ditolak senang.
Saya banyak belajar dari sana. Ternyata menjadi seorang reporter kampus itu tak semudah yang ada di otak saya. Apalagi jumlah kami yang sedikit kala itu. Tulisan diterima? Ya senang pasti. Kalau ditolak, dari situlah saya harus belajar lagi. Sadar diri nya harus cepat, apa yang salah dari liputan ku. Begitulah.
Rasanya bukan hanya sekali tulisan saya ditolak, tapi berkali-kali. Didiamkan redaktur pelaksana, redaktur online, bahkan pemimpin redaksi, adalah kebiasaan saya. Masih anak baru udah banyak masalah. Hutang tulisan harus segera di lunasi. Kalau tidak, ya begitulah.
Menghindari tulisan hard ditolak, sayapun beralih ke liputan seremonial. Suatu kebanggaan yang gak bisa dibanggakan sama sekali. Katanya, reporter itu tolak seremoni, tapi saya melanggar itu semua. Sendirian saya liputan, datang ke seminar orang, peserta bayar 50K. Saya cuma modal tunjukin kartu Pers. Duduk paling depan, dapat snack, dapat ilmu, dapat foto bersama, yang lain pada minta foto bersama bareng pemateri.
Saya modus, "Mau wawancarai pemateri bisa?", dan tak lama kemudian, saya digiring ke belakang untuk wawancara. Kadang liputan di luar kampus, hotel, lapangan, kampus lain, dan liputan upacara peringatan hari besar, padahal mahasiswa lain di halangi biar ga masuk kawasan kampus, tapi saya bisa nyelonong masuk.
Selain itu, nomor saya diminta, dan bakal dihubungi lagi kalau ada acara. Aduh betapa nikmatnya melanggar aturan itu. Saya dapat liputan, gak ada hutang tulisan, dan banyak kenal orang pula. Apalagi ada momen bisa kenalan sama *tittt.
Sampai pada akhirnya, saya menyesali perbuatan saya itu. Yang terlalu nyaman di zona seremoni haha. Tapi bukan berarti saya ga liputan hard ya. Saya juga liputan hard kok. Serius.
Jadi, untuk kebanyakan reporter, yang masih merintis, atau mau merintis. Jangan merasa diri sudah sangat baik. Selalu optimis tulisan akan langsung viral banyak pembaca, padahal masih banyak yang harus diperbaiki.
Belajar dari nol, mulai dari belajar nulis, speaking, berhadapan sama orang gak dikenal, etika, dan belajar sabar. Jangan jadi anak baperan kalau ditolak wawancara sama narasumber, ditolak naskahnya sama redol, apalagi sampek dicoret-coret naskahnya macam saya.
Untuk saya, kamu, kalian, kita semua. Semangat. Jangan jadi reporter lemah.


Mantap
BalasHapusMau dong diajarin jd reporter sama kakak
BalasHapus