Langsung ke konten utama

Prinsip Itu Perlu




Jangan goyah, jalan saja. Kalau ditanya kenapa, katakan itu prinsip hidup namanya.

Diskusi kecil dengan adik di organisasi, saat lama bercengkrama, akhirnya pembicaraan kami mengarah ke hal serius. Kali ini kami sedikit mengeluarkan tawa. Dia bertanya, "Kak, pernah gak ngerasa siapa kawan kakak sebetulnya?" Saya langsung menggeleng. Dia spontan melanjutkan karena penasaran. "Kenapa? Kan banyak yang curhat ke kakak, kakak juga dekat sama banyak orang,".

Ringan saya jawab, "Ya ngerasa dia bener-bener kawan kita pas keduanya udah saling tukar cerita bareng. Netral itu perlu memang,"

Saya menyambung, "Bedanya kalau soal cemburu. Jangan sampek kakak ngerasa cuma kakak yang dekat sama dia. Atau ngerasa kakak adalah orang spesial bagi dia. Jadi pas dia ngobrol ke yang lain, curhat ke yang lain, kakak gak cemburu. Mangkannya jangan pernah geeran, sebelum si kawan mengakui kita adalah orang terdekatnya, jadi gak papa geeran."

Itu prinsip saya yang pertama (Untuk tidak pernah merasa paling spesial bagi orang lain) 

Pernah saya didiamkan oleh teman saya, saya acuh. Karena saya tak tau alasan pastinya apa. Saya pun tetap berkegiatan seperti biasa. Lambat laun, saya lihat dia risih melihat keberadaan kita. Tentu, saya adalah sumber masalah. Ditanya kenapa dia, apa masalahnya, dia tak respon. Malah cuek. Fix, berarti saya adalah masalahnya.

Kau tau apa yang saya lakukan selanjutnya? Saya menghilang sementara waktu. Satu dua tiga hari saya tak dicari juga, tapi hari-hari berikutnya, ketika hati dia sudah tenang. Saya dicari. Diapun bertanya, "kau kemana aja?" Saya jawab, "Aku pergi sebentar, ngapain aku ada tapi cuma jadi masalah samamu". (Saya mikir-mikir ngomong gini, kan saya gak punya masalah sama dia). 

Lain hal sama orang yang sebenarnya tak terlalu mengenal saya bagaimana. Kami beradu argumen, saya keras, dia pun keras. Tidak ada yang mau mengalah. Akhirnya jatuhnya ialah pertengkaran. Sayapun menghilang, padahal, saya tak mau diam-diaman sama orang yang udah kenal baik dengan saya, tapi karena dia masih marah dan tak suka lihat saya, sayapun menghilang. Mencoba membiarkan dia. Benar saja, saya dicari. Diapun minta maaf. 

Ohya, perihal saya pergi sementara, bukan soal lebay. Tapi ini soal hati orang lain. Untuk apa karena keberadaan saya, akhirnya dia yang hilang dan melampiaskan emosinya ke orang lain. Lebih baik didiamkan sejenak.

Itu prinsip kedua saya (Pergi dari orang-orang yang tak suka atas keberadaan saya)

Yang bilang saya ngambekan, iya benar. Sudah sewajarnya cewek itu ngambekan. Tapi kalian salah, kalau mengatakan itu pada saya padahal baru kenal. Saya ini ngambekan pulihnya cepat kok. Saya bukan anak alay yang kalau berantam sama orang harus diam-diaman berhari-hari. 

Jadi alkisah diorganisasi saya ada buat acara nih, field trip gitu dihari terakhir acara kami. Terus panitia inti membuat list, siapa saja yang harus ikut field trip, nah kesalahan saya juga, ketika acara saya kurang berkontribusi. Jadi mungkin itu pertimbangan. 

Oke fix, ternyata nama saya tidak ada di daftar list siapa saja yang akan ikut pergi. Saya pun diam, sejenak mencoba tersenyum. Di kamar panitia saya langsung beberes barang-barang saya, padahal saya sudah packing untuk esoknya ikut pergi. Tapi ketika malam hari malah masuk pesan ke grup kami, bahwa saya tidak termasuk orang didalamnya. Aih. Kesal dong. Iya wkwk.

Pagi harinya, saya langsung bergegas untuk pulang ke kos. Sampai di kos, bunda kos bertanya, " Loh uda pulang dari danau toba?" Saya menggeleng. Saya diam seharian di kamar. Padahal saya udah izin gak masuk kuliah hahaa. Dan berapa saat kemudian, saya di kirim pesan, yang isinya ajakan untuk ikut field trip. Karena tepatnya masih ada feed kosong. Dengan sok bijaknya saya menolak woyyy. 

Mereka fikir saya bercanda. Tapi tetap, saya tidak mau ikut. Karena ada konsisten diri yang harus di jaga. Eh read: konsisten. Bukan gengsi. Huwaaaa.


Itu prinsip ketiga (Konsisten sama omongan. Kalau dibilang enggak ya enggak. Dibilang nanti ya nanti.) 

Mungkin itu beberapa poin prinsip yang saya pakai. Ada banyak, bahkan sangat banyak. Tapi biarlah itu tak ditulis di sini semua. Begitu ya, siapapun kita. Ikuti prinsip. Selagi itu baik. 


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Sikap diDepan Kue Raya

Ada istilah, orang zaman dulu dan orang zaman sekarang. Kalau orang zaman dulu tandanya dia sudah tua dizaman sekarang. Dan orang zaman sekarang, dia sudah modern, tidak seperti orang zaman dulu yang dikenal kuno. Dalam tradisi hari raya idul fitri, juga sering terlintas kalimat yang barangkali tak sengaja ditutur " Dari tahun ketahun ini aja kuenya". Tak perlu menggeleng, ini hanya untuk yang sependapat denganku. Hal yang ditunggu bagi orang yang halal-bihalal selain THRnya, ialah melihat kue-kuenya. Yang tersaji diatas meja dengan sajian unik diatas tempat kue. Entah itu tempat kue kaca, ataupun plastik. Kalau kalian semodel atau sesikap denganku, apa yang pertama kalian lakukam ketika sampai ketempat saudara atau tetangga? Aku menjawab, aku akan membuka semua tutup tempat kue yang ada didepanku. Itu sudah ku anggap tradisi setiap datang kerumah-rumah. Sejak kecil, kebiasaan itu terus terjadi sampai aku dewasa seperti ini. Bukan perihal aku doyan dan aku memakan semuany...

Bukan Sekadar Maaf

Lebaran, merupakan klimaks nya umat muslim disaat bulan ramadan. Banyak hal yang sudah dilewati setiap muslim selama berpuasa. Dan perihal ibadah selama dibulan ramadan, mari kembalikan kepada Allah. Jika membahas soal lebaran, apa yang tersirat selain baju baru, thr, dan mudik? Benar, itulah tradisi bermaaf-maafan. Aku pernah bertanya kepada seorang temanku, kenapa dia kemaren meminta maaf atas semua kesalahan yang ia perbuat terhadapku, namun setelahnya ia kembali lagi membuat kesalahan yang itu bukan tanpa disengaja. Kenapa? Dan dengan singkat dia menjawab,  "Kan kemarin lebarannya". Aku terdiam,  dan hanyut pada kebingungan. Sampai sekarang, aku tak pernah lagi menanyakan hal demikian kepada temanku yang lainnya. Malah yang ada, aku takut mendapat kalimat demikian lagi. Kalau soal lebaran, dalam islam juga dikatakan bahwa lebaran itu mempertandakan bahwa kita umat islam akan segera kembali ke fitrah. Tanda bahwa kita akan menjadi muslim yang baru. Maka dari itu semua ...

Perempuan, Aku Tau Kita Rumit. Tapi Jangan Menyusahkan.

Benar-benar lelah harus bagaimana merespon perempuan.  Benar-benar kesal bagaimana bertanya tanpa menyinggung perempuan.  Benar-benar heran bagaimana menjawab tanpa menyakiti perempuan.  Dan benar-benar letih, bagaimana sebaiknya bersikap di atas kata Hargai Perempuan. Tapi,  "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13) Bukan hanya perkara berpasangan dengan perempuan, tapi hubungan dengan ibu, teman, saudari, keluarga perempuan, pasti selalu menemukan hal-hal yang bikin, "Segitunya jadi perempuan". Siapapun, kita butuh perempuan. Siapapun kita butuh sosok ibu. Siapapun, kita butuh kita menjadi perempuan yang benar-benar paham akan kodrat, tanggungjawab, dan sebenarnya tak...