Kalaulah benar industri 4.0 adalah masanya
teknologi dan internet menjamur keseluruh penjuru dunia, bagaimana nasib anak
micin yang saat itu sudah tua dan tidak produktif lagi ?
![]() |
| Sumber: Google.com |
Semua
sedang sibuk mempersiapkan Indonesia untuk menjadi negara emas di tahun 2045,
bukan sekadar emas dan gemilau dari segi sumber daya alam, tapi juga emas dari
sisi teknologi, pendidikan, pertanian dan juga ekonomi. Ya benar saja, kuncinya
semua disumber daya manusianya. Sudah kebayang belum sih, siapa sumber daya manusia (sdm) yang dimaksud?
SDM
yang dimaksud jelas saja si kita-kita ini, yang katanya generasi milenial
(generasi yang lahir antara tahun 1980an – 2000an). Dan tepatnya dianggap
sebagai generasi yang tak pernah lepas dari genggaman gawai, dan harus selalu
terhubung dengan internet. Pantas saja data Asosiasi Penyelenggara Jasa
Internet Indonesia (APJII) di tahun 2017 mencatat setidaknya lebih dari 50%
atau sekitar 143 juta penduduk Indonesia telah terkoneksi internet, ternyata
itu juga kemungkinan besar kitalah penggunanya.
Sempat
viral sebuah julukan yaitu anak micin (kalau di KBBI namanya Vetsin). Aktornya
jelas saja, si generasi milenial. Tapi saya menyoroti istilah anak micin ini
memang ditujukan kepada orang-orang yang alay, lebay dan suka latah. Maksudnya
latah ya itu, musimnya buat vlog aneh diikuti buat vlog juga, ada anak main tik-tok
viral ya diikuti juga, dan suka latah aja gitu ikut memviralkan hal-hal yang
gak penting. Betapa sucinya mereka, benar-benar suka jika dianggap micin,
karena micin/vetsin memang gunanya untuk menyedapkan.
Menyoal
si micin, saya tetiba memikirkan bagaimana nasib mereka nantinya di revolusi industri
4.0. Anak micin sudah paham apa itu revolusi industri 4.0? Saya harap belum,
biar kalian si anak micin dapat menyelesaikan bacaan ini sampai akhir. Revolusi
industri 4.0 itu masanya kita dihadapkan dengan internet dan teknologi yang
mempengaruhi dunia industri.
![]() |
| Sumber: Liputan6.com |
Benar-benar
semua tentang kecanggihan teknologi, hal-hal yang gak jadi masalah selama ini
dilakukan secara manual, bakalan dirombak dan dikembangkan lagi dengan
teknologi yang lebih canggih. Entah itu mulai adanya robot manusia yang bisa
membereskan rumah kita melalui kerja remot kontrol, atau sebuah alat canggih
yang bisa membajak sawah jika tanah sudah gembur, tanpa harus memanggil kerbau
dikandang kita. Jadi kerbaunya ada waktu untuk istirahat, dan mulai
membayangkan betapa sedihnya dia jadi pengangguran.
Lalu,
apa yang jadi masalah? Nah masalahnya itu tak ada, hanya saja ini bentuk
kekhawatiran terhadap anak micin yang akan menghadapi industri 4.0. Lihat saja
si micin sekarang sedang sibuk buat dirinya viral lewat youtobe dan instagram,
membuat dirinya terlihat sangat bodoh di media sosial, dan sibuk memikirkan ide
baru apalagi untuk mem-prank orang-orang
yang dijumpainya. Sampai dia selalu melakukan banyak pencitraan hanya untuk
kesenangannya, juga sampai dia lupa kalau kebiasaan prank itu dosa.
Kenapa dosa? Kan cuma bercanda.
Lu
gampang ngomong bercanda, dan bisa minta maaf. Nah yang jadi korban lu gimana
kalau misalnya dia punya sakit jantung, dengan lu minta maaf dia bisa sehat wal
afiat? Yang ada langsung sekarat. Apalagi kalau sesama muslim tapi suka prank. “Tidak halal bagi seorang muslim
menakut-nakuti muslim yang lain,” (HR. Abu Dawud). Yah kan sampai ceramah, habis
saya suka geram gitu kalau bahas itu.
Kesibukan
mereka menikmati dunia viralnya itu di media sosial menjadikan lupa waktu untuk
berliterasi, kan? Jarang membaca UU,
buku di perpustakaan, jurnal, atau isu hangat yang menyangkut Indonesia. Benar
gak sih,? Ya saya rasa benar, karena
saya pun sampai sekarang suka memperhatikan anak micin disekitar saya. Bahkan
saya juga pernah tetiba melakukan hal bodoh seperti ikut memviralkan suatu
kebodohan yang tak mendidik sama sekali, membuat saya jadi malas membaca.
![]() |
| Sumber: Google.com |
Daripada
sibuk memviralkan diri, juga sibuk sindir-menyindir karena emosi tidak suka
dianggap sebagai si cebong dengan si kampret di tahun politik ini, lebih
baiklah mulai meratapi nasib dan memikirkan akan seperti apa diri ini ke depan.
Ya tepatnya di industri 4.0. Sedih juga kalau memikirkan kita di masa depan
kalau sejak dini saja kita masih suka-suka hati hidup di bumi, masih enggan
melakukan hal-hal positif, masih suka latah atas semua postingan anak alay.
Jadi apa ke depannya? Buat temuan
apa di masa depan? Dianggap apa kita dengan orang lain? Sedang kita masih suka
aneh dan sedih jika tidak menjadi panjat sosial di media sosial. Tentu kalian
sudah tahu perusahaan E-Commerce yang belum lama ini merilis supermarket Amazon
Go, dimana pelanggan dapat berbelanja tanpa menggunakan kasir dengan hanya
menggunakan smartphone yang terhubung
dengan aplikasi.
Mari
berasumsi, tentu supermarket itu telah meminimalisir pekerjaan, yaitu seperti
pegawai kasir. Sudah terbayang jika ini masuk ke Indonesia dikemudian hari?
Akan banyak pengangguran bukan? Padahal di Indonesia menjadi pegawai kasir di
tempat perbelanjaan banyak diincar oleh orang yang butuh pekerjaan.
Itu
masih satu perumpaan, bagaimana jika tercipta gebrakan baru di dunia pendidikan.
Yaitu dengan mengikuti sekolah online, dimana
fiturnya terdapat materi yang sama dengan di sekolah, mentor professional
secara online, dan juga ada pembagian
rapot secara online. Bagaimana nasib
pengajar di Indonesia yang basic nya
menjadi guru di sekolah-sekolah. Akan terjadi pengangguran sarjana bukan?
Banyaknya
aplikasi yang benar-benar memudahkan masyarakat, bagian ini saya suka sedih.
Karena saya juga sebagai user setia.
Hmmm. Sudah ada aplikasi pengiriman barang, ojek online, pesan makanan online,
semua serba online. Lain sisi
saya juga sedih, karena saya perlahan jadi anti sosial. Yang membatasi diri
untuk keluar dan bertemu langsung dengan penjual makanan, hanya karena ada
penyelamat saya secara online. Micin,
kau seperti ini? penikmat online? Wajar
saja kalian itu di dunia nyata banyak yang pendiam, dan tepatnya cuma heboh di
media sosial.
Wahai
anak micin, pernahkah kalian renungkan itu semua? Kalau kalian juga bertanya
balik kepada saya soal itu, saya akan menjawab kalau saya pernah membayangkan
hal-hal itu. Bersosialisasi lah kita, lihat dunia luar wahai anak micin, baca
buku, jangan sibuk baca komentar postingan dari netizen.
Kalau
jadi orang sukses dikemudian hari syukur, tapi kalau tak bisa mengenyam
pendidikan tinggi, juga tidak punya skil
apapun, dan hanya bisa jadi serabutan, yasudah sabar. Itulah mengapa kita perlu
persiapan matang untuk industri 4.0. Agar tak banyak pengangguran nantinya,
hanya karena semua beralih ke teknologi. Kecuali kalau kau juga diotak-atik dan
dirubah jadi robot rumah tangga, mungkin kau tidak akan pengangguran.



Wah anak micin berkomentar tentang Industri 4.0 Sampe galau gitu ya gara2 masa depan. Semangat mempersiapkan yaa, ke depan bakal lebih kejam lagi teknologi. Karena segalanya bakal teknologi yang menggantikan peran manusia. Lantas manusia ngapain? Jangan cemas. Manusia remote controlnya. Makanya baik baik kuliah ya nak..
BalasHapusIya, baik-baik kuliahnya kok pak haha
Hapus