Getarnya mulai terasa. Nada deringnya makin keras terdengar. Sesekali berhenti. Sesekali memanggil lagi. Mungkin harus belajar tak abai lagi, dan mulai memberanikan diri, walau berujung pada kata 'kipas-kipas-mana kipas'.
Pernah penasaran dengan apa yang orang ucapkan dipanggilan telepon. Sampai beberapa minggu aku memastikan diri untuk mempelajari setiap kata yang ditutur apabila menelpon. Kalau tidak begitu, mungkin yang ada hanya diam, takut, dan makin basah tubuh ini akibat banyaknya keringat yang keluar.
Itu fakta, sejak dulu aku jarang mengangkat telepon orang. Kalau sudah dalam keadaan yang urgen, barulah aku mengangkat telepon. Dan itu harus depan kipas, atau buku yang bisa untuk mendinginkan suasana. Sampai orang tua ku sering marah karena aku selalu menyuruh temanku untuk mengangkat teleponnya. Dan itu SMA.
Kalau saja tidak ada kipas, keringat ini makin mengucur deras. Itu sebabnya dari dulu tak pernah angkat telepon. Sering ada yang menanyakan, kenapa begitu? Aku hanya menggelengkan kepala. Lalu ku jawab disini Tak ada alasan kenapa aku demikian. Intinya, aku mengeluarkan keringat bukan karena grogian, tapi takut yang berlebihan. Walau hanya sekedar berkata *hallo* .
Pelan dan sangat pelan. Aku membiasakan diri untuk menerima panggilan dengan keadaan normal. Mereka berdua, Nur Awaliyah dan Eliza Ellen selalu memancing, sambil berkata Kau depan kipas inikan? Jual mahal, aku jawab tidak. Padahal, ada buku tipis yang ku putar-putar untuk memberi angin ke aku.
Belum lagi kalau sudah ada yang menelpon dengan berkata Suaramu kok gini kali? Bikin telinga sakit. *Jlebb. Tiba-tiba aja keringat ini makin banyak keluar. Seketikapun ponsel ini ingin pergi saja dari tanganku. Kau pernah menutur ini saat menelponku? Mungkin saatnya kau harus segera minta maaf. Silahkan, sebelum terlambat.
Tulisan ini bukan curhat belaka. Tapi ini hanya penjelasan yang sejak dulu ku simpan. Kenapa aku jarang mengangkat telepon, dan kenapa aku selalu segera mencari buku tulis atau kipas, atau berdiri sejenak dialam bebas; yang ada anginnya. Untuk kalian yang sering menelpon siapapun itu, sudahla. Menelpon itu tidak baik kalau membicarakan tidak perlu. Hemat-hematlah dalam menelpon, apalagi menelpon yang bukan muhrim. Simpan saja suaramu sampai ada orang selanjutnya yang terkejut akan suaramu. Akhir kata, terima kasih dan maaf. *hmm satu jam. Mari Yim^^

Yeayyy
BalasHapus