Langsung ke konten utama

Petasan Dilarang, Pedagang Tetap Berjualan

            Hari-hari perayaan, selalu diidentikkan dengan petasan ataupun mercon. Pertanda bahwa orang-orangnya telah merdeka, ataupun sebagai hiburan belaka pribadinya. Bermain petasan terbilang seru, mana kala petasan dapat memuaskan pribadi penggunanya, padahaldari kacamat penulis, penggunaan petasan oleh kalangan anak usia dini dilakukan ditempat-tempat yang jauh dari jangkauan masyarakat lain, terlihat bahwasanya itu hanya sebagai pemuas diri.
             Padahal sejak tahun ke tahun, petasan selalu dijadikan bahan berita bagi para wartawan, karena lebih dominan membahayakan setiap orang, baik itu penggunanya, ataupun orang yang barangkali melintas didekat petasan yang sedang dipasangkan.
              Seperti yang dilansir pada berita detiknews, bahwasanya polisi telah melarang penggunaan petasan dibulan Ramadan hingga lebaran, dan polisi juga akan menindak penjual petasan yang memperjualbelikannya. Dalam berita yang diterbitkan pada 22 Mei silam, Kabid Humas Polda Metro Jaya menuturkan bahwa bukan hanya petasan yang dilarang, tetapi juga kembang api, kembang api boleh digunakan, tapi dengan syarat kurang dari 2 inci.
              Bukan hanya pada pemberitaan di detiknews, tetapi juga di serambinews, yang berisikan bahwanya polda Aceh telah mengeluarkan surat telegram Kapolda Aceh untuk jajarannta termasuk Polres di 23 Kabupaten/Kota untuk arahan dalam pelaksanaan pengawasan, pengendalian, dan pengendalian terhadap beredarnya petasan,mercon, dan kembang api.
              Dirasa banyak jika kita mulai mengotak-atikkan berita dibanyaknya Koran melalui google tentang larangan menggunakan petasan. Bukan hanya dua dari contoh media tersebut, banyak hal yang dapat merugikan dalam  menggunakan petasan. Kalau dulu semasa kecil, beberapa orang tua berkata dengan anaknya, “Ngapai beli begitu, bakar uang itu namanya,”, nyatanya, hingga kini kalimat itupun sering ditutur.    
            Jelang lebaran seperti ini, gencar lagi bagi para pedagang untuk menjual petasan, bukan karena alasan, tapi karena tradisi yang secara terus dan terus menerus dilakukan. Kebiasaan yang sebenarnya hanya berguna untuk memuaskan diri sepatutnya tak lagi kita lakukan. Kalau ada hal lain yang bisa dilakukan dimalam-malam jelang lebaran, lakukanlah. Namun bukan dengan melakukan hal yang banyak mengandung mudarat. Ingat, jangan membakar uang dengan cara lain.

#Day20
#CeritaRamadanku
#29HariNgeblog

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Sikap diDepan Kue Raya

Ada istilah, orang zaman dulu dan orang zaman sekarang. Kalau orang zaman dulu tandanya dia sudah tua dizaman sekarang. Dan orang zaman sekarang, dia sudah modern, tidak seperti orang zaman dulu yang dikenal kuno. Dalam tradisi hari raya idul fitri, juga sering terlintas kalimat yang barangkali tak sengaja ditutur " Dari tahun ketahun ini aja kuenya". Tak perlu menggeleng, ini hanya untuk yang sependapat denganku. Hal yang ditunggu bagi orang yang halal-bihalal selain THRnya, ialah melihat kue-kuenya. Yang tersaji diatas meja dengan sajian unik diatas tempat kue. Entah itu tempat kue kaca, ataupun plastik. Kalau kalian semodel atau sesikap denganku, apa yang pertama kalian lakukam ketika sampai ketempat saudara atau tetangga? Aku menjawab, aku akan membuka semua tutup tempat kue yang ada didepanku. Itu sudah ku anggap tradisi setiap datang kerumah-rumah. Sejak kecil, kebiasaan itu terus terjadi sampai aku dewasa seperti ini. Bukan perihal aku doyan dan aku memakan semuany...

Bukan Sekadar Maaf

Lebaran, merupakan klimaks nya umat muslim disaat bulan ramadan. Banyak hal yang sudah dilewati setiap muslim selama berpuasa. Dan perihal ibadah selama dibulan ramadan, mari kembalikan kepada Allah. Jika membahas soal lebaran, apa yang tersirat selain baju baru, thr, dan mudik? Benar, itulah tradisi bermaaf-maafan. Aku pernah bertanya kepada seorang temanku, kenapa dia kemaren meminta maaf atas semua kesalahan yang ia perbuat terhadapku, namun setelahnya ia kembali lagi membuat kesalahan yang itu bukan tanpa disengaja. Kenapa? Dan dengan singkat dia menjawab,  "Kan kemarin lebarannya". Aku terdiam,  dan hanyut pada kebingungan. Sampai sekarang, aku tak pernah lagi menanyakan hal demikian kepada temanku yang lainnya. Malah yang ada, aku takut mendapat kalimat demikian lagi. Kalau soal lebaran, dalam islam juga dikatakan bahwa lebaran itu mempertandakan bahwa kita umat islam akan segera kembali ke fitrah. Tanda bahwa kita akan menjadi muslim yang baru. Maka dari itu semua ...

Perempuan, Aku Tau Kita Rumit. Tapi Jangan Menyusahkan.

Benar-benar lelah harus bagaimana merespon perempuan.  Benar-benar kesal bagaimana bertanya tanpa menyinggung perempuan.  Benar-benar heran bagaimana menjawab tanpa menyakiti perempuan.  Dan benar-benar letih, bagaimana sebaiknya bersikap di atas kata Hargai Perempuan. Tapi,  "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13) Bukan hanya perkara berpasangan dengan perempuan, tapi hubungan dengan ibu, teman, saudari, keluarga perempuan, pasti selalu menemukan hal-hal yang bikin, "Segitunya jadi perempuan". Siapapun, kita butuh perempuan. Siapapun kita butuh sosok ibu. Siapapun, kita butuh kita menjadi perempuan yang benar-benar paham akan kodrat, tanggungjawab, dan sebenarnya tak...