Pertanyaan horor disetiap tahun selalu ku dapatkan, baik itu saudara yang masih kecil, ataupun sudah tua. Semua mempertanyakan itu, "kapan nikah?" singkat sih, tapi terdengar menakutkan dan mengejutkan. Ya pasalnya aku ini memang sudah cukup umur untuk menikah, tapi mau dijawab apa saat aku memang belum memiliki jodoh.
Bukan perihal aku tidak laku atau tidak ada yang berminat, tapi karena aku selalu menganggap usiaku masih kekanakan.
Pemikiranku belum dewasa. Maka aku selalu menolak, bahkan ketika dijodohkan. Tapi, itu pengantar kisah beberapa tahun lalu.
Dan ditahun ini, tanpa ku jawab, mereka semua akan diam dan mungkin hanya senyum-senyum sendiri. Karena, aku sudah bisa mudik dengan laki-laki yang sudah ku beri gelar, 'suami'. Jelas suami ku, bukan suami ibu ku (ayahku) sendiri.
Pasalnya, sebelum ramadan kemarin, kami sudah menikah. Dan beneran menikah, dia menyarungkan cincin dijari manisku, dengan malu aku menyalim tangannya. Canggung tentu ada. Begitupun dengan dia. Hingga akhirnya kami benar bersalaman. Ditahun ini, kami akan mudik bersama kerumah orang tuaku dan saudara-saudara kami, berhubung kami adalah anak paling kecil, maka kami yang sibuk mudik untuk mendatangi rumah-rumah saudara kami.
Dan dihari rabu, kami akan memulai perjalanan mudik, dari Bandung ke Rantau prapat. Perjalanan yang terbilang jauh, namun akan terasa nikmat dan tak banyak mengeluh karena dibersamai denganya. Mudik disetiap tahun itu memang tradisiku, apalagi ketika aku sudah ada yang memiliki, rasa takut yang biasanya membersamai tak ada lagi.
Rasa syukurku ke Allah ditahun ini sangat besar, Allah mendatangkan jawaban dari banyaknya pertanyaan orang-orang. Tahun ini jadi mudik perdanaku, dan aku berharap ditahun depan sudah bisa mudik bareng keluarga kecilku dengan seorang anak. Itu juga harapan suami.
Dan, diparagraf terakhir, penulis ingin menutur, bahwa rasa haruku lebih besar dari rasa syukurku, haru karena ini hanya tulisan yang dibersamai dengan khayalan, pada faktanya, penulis dinyatakan belum cukup jiwa untuk menikah, dan belum mampu jasmani dan rohani untuk menikah. Lagi, menjadi seorang penulis bisa menjadi apa saja.
#Day24
#CeritaRamadanku
#29haringeblog
Komentar
Posting Komentar