Langsung ke konten utama

Mudik Bareng


           Pertanyaan horor disetiap tahun selalu ku dapatkan, baik itu saudara yang masih kecil, ataupun sudah tua. Semua mempertanyakan itu, "kapan nikah?" singkat sih, tapi terdengar menakutkan dan mengejutkan. Ya pasalnya aku ini memang sudah cukup umur untuk menikah, tapi mau dijawab apa saat aku memang belum memiliki jodoh.
Bukan perihal aku tidak laku atau tidak ada yang berminat, tapi karena aku selalu menganggap usiaku masih kekanakan.   
            Pemikiranku belum dewasa. Maka aku selalu menolak, bahkan ketika dijodohkan. Tapi, itu pengantar kisah beberapa tahun lalu.
Dan ditahun ini, tanpa ku jawab, mereka semua akan diam dan mungkin hanya senyum-senyum sendiri. Karena, aku sudah bisa mudik dengan laki-laki yang sudah ku beri gelar, 'suami'. Jelas suami ku, bukan suami ibu ku (ayahku) sendiri.
           Pasalnya, sebelum ramadan kemarin, kami sudah menikah. Dan beneran menikah, dia menyarungkan cincin dijari manisku, dengan malu aku menyalim tangannya. Canggung tentu ada. Begitupun dengan dia. Hingga akhirnya kami benar bersalaman. Ditahun ini, kami akan mudik bersama kerumah orang tuaku dan saudara-saudara kami, berhubung kami adalah anak paling kecil, maka kami yang sibuk mudik untuk mendatangi rumah-rumah saudara kami.
             Dan dihari rabu, kami akan memulai perjalanan mudik, dari Bandung ke Rantau prapat. Perjalanan yang terbilang jauh, namun akan terasa nikmat dan tak banyak mengeluh karena dibersamai denganya. Mudik disetiap tahun itu memang tradisiku, apalagi ketika aku sudah ada yang memiliki, rasa takut yang biasanya membersamai tak ada lagi.
           Rasa syukurku ke Allah ditahun ini sangat besar, Allah mendatangkan jawaban dari banyaknya pertanyaan orang-orang. Tahun ini jadi mudik perdanaku, dan aku berharap ditahun depan sudah bisa mudik bareng keluarga kecilku dengan seorang anak. Itu juga harapan suami.
            Dan, diparagraf terakhir, penulis ingin menutur, bahwa rasa haruku lebih besar dari rasa syukurku, haru karena ini hanya tulisan yang dibersamai dengan khayalan, pada faktanya, penulis dinyatakan belum cukup jiwa untuk menikah, dan belum mampu jasmani dan rohani untuk menikah. Lagi, menjadi seorang penulis bisa menjadi apa saja.

#Day24
#CeritaRamadanku
#29haringeblog

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Sikap diDepan Kue Raya

Ada istilah, orang zaman dulu dan orang zaman sekarang. Kalau orang zaman dulu tandanya dia sudah tua dizaman sekarang. Dan orang zaman sekarang, dia sudah modern, tidak seperti orang zaman dulu yang dikenal kuno. Dalam tradisi hari raya idul fitri, juga sering terlintas kalimat yang barangkali tak sengaja ditutur " Dari tahun ketahun ini aja kuenya". Tak perlu menggeleng, ini hanya untuk yang sependapat denganku. Hal yang ditunggu bagi orang yang halal-bihalal selain THRnya, ialah melihat kue-kuenya. Yang tersaji diatas meja dengan sajian unik diatas tempat kue. Entah itu tempat kue kaca, ataupun plastik. Kalau kalian semodel atau sesikap denganku, apa yang pertama kalian lakukam ketika sampai ketempat saudara atau tetangga? Aku menjawab, aku akan membuka semua tutup tempat kue yang ada didepanku. Itu sudah ku anggap tradisi setiap datang kerumah-rumah. Sejak kecil, kebiasaan itu terus terjadi sampai aku dewasa seperti ini. Bukan perihal aku doyan dan aku memakan semuany...

Bukan Sekadar Maaf

Lebaran, merupakan klimaks nya umat muslim disaat bulan ramadan. Banyak hal yang sudah dilewati setiap muslim selama berpuasa. Dan perihal ibadah selama dibulan ramadan, mari kembalikan kepada Allah. Jika membahas soal lebaran, apa yang tersirat selain baju baru, thr, dan mudik? Benar, itulah tradisi bermaaf-maafan. Aku pernah bertanya kepada seorang temanku, kenapa dia kemaren meminta maaf atas semua kesalahan yang ia perbuat terhadapku, namun setelahnya ia kembali lagi membuat kesalahan yang itu bukan tanpa disengaja. Kenapa? Dan dengan singkat dia menjawab,  "Kan kemarin lebarannya". Aku terdiam,  dan hanyut pada kebingungan. Sampai sekarang, aku tak pernah lagi menanyakan hal demikian kepada temanku yang lainnya. Malah yang ada, aku takut mendapat kalimat demikian lagi. Kalau soal lebaran, dalam islam juga dikatakan bahwa lebaran itu mempertandakan bahwa kita umat islam akan segera kembali ke fitrah. Tanda bahwa kita akan menjadi muslim yang baru. Maka dari itu semua ...

Perempuan, Aku Tau Kita Rumit. Tapi Jangan Menyusahkan.

Benar-benar lelah harus bagaimana merespon perempuan.  Benar-benar kesal bagaimana bertanya tanpa menyinggung perempuan.  Benar-benar heran bagaimana menjawab tanpa menyakiti perempuan.  Dan benar-benar letih, bagaimana sebaiknya bersikap di atas kata Hargai Perempuan. Tapi,  "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13) Bukan hanya perkara berpasangan dengan perempuan, tapi hubungan dengan ibu, teman, saudari, keluarga perempuan, pasti selalu menemukan hal-hal yang bikin, "Segitunya jadi perempuan". Siapapun, kita butuh perempuan. Siapapun kita butuh sosok ibu. Siapapun, kita butuh kita menjadi perempuan yang benar-benar paham akan kodrat, tanggungjawab, dan sebenarnya tak...