Kalau blog kemarin hanya menyajikan beberapa ulasan dari berbagai jenis berita dikoran, kali ini, akan bercerita tentang pribadi dimasa lampau, dimasa diri ini sangat bersemangat dalam mencarinya untuk mendapatkan.
Ketika menginjak kelas 3 SD, aku baru lancar untuk melakukan salat sendirian, baik itu wajib ataupun sunnah. Dan aku memperlancar ibadah disaat Ramadan. Kalau waktu beberbuka akan tiba, biasanya aku menunggu didepan tv untuk melihatkartun kisah-kisah Nabi, ataupun mendengarkan ceramah dari Ust Ust cilik, seperti Zam—zam. Disaat itulah aku semakin bersemangat mencari tau amalan dibalik Ramadan ini.
Hingga, ketika mendengar ceramah, ada dijelaskan tentang suatu malam yang amalannya lebih baik dari seribu bulan. Aku masih belum paham, ditambah lagi, saat SD, dibuku agamaku, ada sebuah surah yang juga bercerita tentang malam itu, Lailatul Qadr. Rasa penasaranku semakin bergejolak.
Untungnya, orang tuaku selalu baik dalam menjelaskan hal itu. Namun, saat itu aku sudah kelas 4, karena bagiku masih sulit untuk menerima ilmu baru dikelas 3, akupun mendapatkan jawaban itu.dan aku masih ingat, kalau orang tua ku menceritakan dimalam tersebut, diatas jam 2 malam, pohon-pohon dipinggiran jalan akan menunduk seakan—akan bersujud.dan air dibak mandi akan membeku. Dan disaat itulah kita berdoa, tandanya kalau kita sudah melihat kejadian itu, berarti kita telah dapat lailatul qadr.
Belum sampai disitu, ayah juga bercerita, kalau baiknya kita tidur dulu, dan harus bangun lagi di 1/3 malam untuk salat tahajud, disaat itulah bukan alarm lagi yang membangunkan, tapi malaikat, itu tandanya kita akan segera mendapat malam kebaikan itu.
Bagaimana semangatnya aku mencarinya dan terus mencari, tarawih selalu mengambil shaff paling depan diantara banyaknya ibu-ibu, takmeninggalkan tadarus dimasjid atau dirumah, dan banyak melakukan hal-halyang kurasa sangat bermanfaat. Dikelas 4 aku tidak mendapatkan fenomena itu, dikelas 5 juga tidak dapat, dikelas enam apalagi.
Dan pada akhirnya, aku menggerutu kesal, kenapa isma ga pernah dapat lailatul qadr, sangat kesal dan rasanya ingin menangis setelah tiga tahun berturut—turut sangat bersemangat, akhirnya, mama jelaskan Nak, isma udah dapat lailatul qadr InsyaAllah, ayah bilang gitu biar kau semangat ibadah. Jleb!!
Bagaimana kagetnya diriku ini, kaget bukan karena merasa siasia dalam beribadah, tapi kaget karena ternyata selama ini aku selalu mengharapkan untuk melihat fenomena pohon menunduk dan air membeku. Rasanya aku malu ke Allah.wallahi.. Tapi aku tidak menyesali masa kecilku dalam mencari lailatul qadr, bahkan aku senang.
#Day21
#CeritaRamadanku
#29haringeblog
Komentar
Posting Komentar