Apalah arti hidup jika berusaha jauh darinya. Apalah arti semua tindakan jika sengaja melupakannya. Dan, apalah arti membaca, jika tak pernah membacanya.
Alquran, kalam Allah yang didalamnya banyak petuah, nasihat, penjelasan, sejarah, sudah menjadi hal yang wajib dibaca oleh umat Islam. Tidak memandang siapa saja yang boleh membaca, semua diwajibkan untuk membaca dan memahami isi yang terkandung didalamnya. Banyak pahala atau keutamaan dalam membaca alquran.
Dari Ibnu Mas’ud r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “barangsiapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu hasanah (kebaikan) dan satu hasanah itu sama dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.” (Hr. Tirmidzi).
Dalam hadis tersebut sudah tak lagi diragukan untuk membaca alquran, banyak pahala didalamnya. Apalagi jika membaca artinya dan memahami, juga mencerminkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sudah seberapa sering kita membacanya? Atau, sudah seberapa sering kita melupakannya? Sejatinya, bukan alquran yang butuh kita, melainkan kita yang membutuhkannya, bukan hanya sebagai penerang dialam kubur, tapi juga sebagai penolong kita dalam timbangan amal.
Sedikit bercerita, aku suka membaca buku, dan pernah beberapa tahun lalu, aku hanya menghabiskan waktu dengan membaca buku, buku dan buku, tentu selera pembaca, buku yang selalu ku baca yaitu berbau sastra, motivasi, atau hanya sekadar antologi curcol dari penulis. Sampai, pulang sekolah, aku selalu menghampiri perpustakaan kota, dan, disitulah semangatku memuncak. Berbagai bukuku baca, tak dapat meminjam diperpus, buku tersebut kufoto, dan ku baca dirumah.
Aku rasa itu baik, hobi membaca.
Tapi ternyata aku salah langkah. Aku lupa, bahwa kitab yang seharusnya ku baca, malah ku tinggalkan. Wallahi. Buruknya aku. Hobi bacaku ketika itu ibarat sedang berjalan diatas es batu, dingin seketika, tapi panas selama kita masih berjalan diatasnya.
Ini bukan perihal aku membongkar aib, tapi inilah faktanya. Aku ditegur oleh Allah masa itu, sangat memalukan. Hingga muhasabah diripun lagi dan lagi harus ku lakukan. Aku kembali padanya, kembali menjadikan ia seperti dulu, seperti ketika masa kanak-kanak, yang selalu menjadikan dia sahabat, pegangan, dan selalu merasa kehilangan kalau lupa membawanya kemana saja. Ku ingin, dia selalu membersamai langkah ini.
#Day17
#quran
#CeritaRamadanku
#29haringeblog
Komentar
Posting Komentar