Langsung ke konten utama

Takjil Mahal; Gagal

            Tema hari ini, membikin kurindu sosok yang dirumah sana. Ah sudahlah, aku takut akan membahas dia,padahal aku ingin membahas apa yang telah disediakannya dimeja makan. Sebut saja dia mama, mama koki terbaik yang ku kenal. Pra berbuka itu rasanya nikmat, saat mama dan ayah mulai sibuk membuat dan membeli takjil. Setiap harinya meja makan dipenuhi dengan takjil, mulai dari yang kusuka hingga tak kusuka. Tapi intinya semua juga ku makan, karena aku suka makan. Belum lagi adikku yang selalu merengek meminta takjil yang banyak berjualan didekat rumah kami. Kalau aku menyimpulkan, uang ayah dan mama hampir selalu terkuras karena harus menuruti anak-anaknya yang taunya hanya minta, dan meminta.
            Rindu itu rasanya berat, mau ditemui tapi jauh, jadi terpaksa ditahan, dan aku selalu mencari hal-hal yang menyerupai suasana dirumah. Yaa seperti dengan menyediakan takjil ala rumah sendiri, tentu beli jadi. Bukan memasaknya lagi seperti mama. Dan tinggal dikota orang, aku jadi lebih paham. Ternyata dipinggiran jalan, diarea masjid, penjual takjil bersebaran dimana-mana.
             Belum lagi aku mendapat pengetahuan baru tentang takjil khas melayu,yaitu Bubur Pedas. Memang benar itu bubur sudah lama ada. Tapi aku benar baru mengetahuinya dibulan penuh berkah ini. Walau aku seorang yang membenci masakan pedas, tapi akupun turut merasa itu unik dan kreatif bagi yang memasak dan menciptakan menu baru seperti itu.
            Sehingga aku memutuskan untuk menggerakkan berjualan takjil juga dengan teman seperjuanganku dikelas. Sekitar 8 orang kami memutuskan untuk berjualan. Bukan hanya sebatas mencari penghasilan, tapi lebih tepatnya mencari pengalaman dengan hal yang kami anggap baru. Yaitu berjualan. Maklum saja, aku pernah mencoba berjualan sendiri, tapi ternyata bakat dan minat ku tak menjadi seorang penjual, sehingga aku memikirkan hal baru yaitu dengan berjualan secara berkelompok.
           Tapi ternyata, hingga ramadan ke empat kamipun tak kunjung membincangkan soal itu. Hingga ternyata planning hanya tinggal planning. Tanpa ada bukti untuk berjualan dan terjun ke pinggir jalanan Medan. Menjual Takjil Mahal(Murah dan Halal) hanya tinggal kenangan.

#Day4
#takjil
#CeritaRamadanku
#29haringeblog

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Sikap diDepan Kue Raya

Ada istilah, orang zaman dulu dan orang zaman sekarang. Kalau orang zaman dulu tandanya dia sudah tua dizaman sekarang. Dan orang zaman sekarang, dia sudah modern, tidak seperti orang zaman dulu yang dikenal kuno. Dalam tradisi hari raya idul fitri, juga sering terlintas kalimat yang barangkali tak sengaja ditutur " Dari tahun ketahun ini aja kuenya". Tak perlu menggeleng, ini hanya untuk yang sependapat denganku. Hal yang ditunggu bagi orang yang halal-bihalal selain THRnya, ialah melihat kue-kuenya. Yang tersaji diatas meja dengan sajian unik diatas tempat kue. Entah itu tempat kue kaca, ataupun plastik. Kalau kalian semodel atau sesikap denganku, apa yang pertama kalian lakukam ketika sampai ketempat saudara atau tetangga? Aku menjawab, aku akan membuka semua tutup tempat kue yang ada didepanku. Itu sudah ku anggap tradisi setiap datang kerumah-rumah. Sejak kecil, kebiasaan itu terus terjadi sampai aku dewasa seperti ini. Bukan perihal aku doyan dan aku memakan semuany...

Bukan Sekadar Maaf

Lebaran, merupakan klimaks nya umat muslim disaat bulan ramadan. Banyak hal yang sudah dilewati setiap muslim selama berpuasa. Dan perihal ibadah selama dibulan ramadan, mari kembalikan kepada Allah. Jika membahas soal lebaran, apa yang tersirat selain baju baru, thr, dan mudik? Benar, itulah tradisi bermaaf-maafan. Aku pernah bertanya kepada seorang temanku, kenapa dia kemaren meminta maaf atas semua kesalahan yang ia perbuat terhadapku, namun setelahnya ia kembali lagi membuat kesalahan yang itu bukan tanpa disengaja. Kenapa? Dan dengan singkat dia menjawab,  "Kan kemarin lebarannya". Aku terdiam,  dan hanyut pada kebingungan. Sampai sekarang, aku tak pernah lagi menanyakan hal demikian kepada temanku yang lainnya. Malah yang ada, aku takut mendapat kalimat demikian lagi. Kalau soal lebaran, dalam islam juga dikatakan bahwa lebaran itu mempertandakan bahwa kita umat islam akan segera kembali ke fitrah. Tanda bahwa kita akan menjadi muslim yang baru. Maka dari itu semua ...

Perempuan, Aku Tau Kita Rumit. Tapi Jangan Menyusahkan.

Benar-benar lelah harus bagaimana merespon perempuan.  Benar-benar kesal bagaimana bertanya tanpa menyinggung perempuan.  Benar-benar heran bagaimana menjawab tanpa menyakiti perempuan.  Dan benar-benar letih, bagaimana sebaiknya bersikap di atas kata Hargai Perempuan. Tapi,  "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13) Bukan hanya perkara berpasangan dengan perempuan, tapi hubungan dengan ibu, teman, saudari, keluarga perempuan, pasti selalu menemukan hal-hal yang bikin, "Segitunya jadi perempuan". Siapapun, kita butuh perempuan. Siapapun kita butuh sosok ibu. Siapapun, kita butuh kita menjadi perempuan yang benar-benar paham akan kodrat, tanggungjawab, dan sebenarnya tak...