Langsung ke konten utama

Tak Ada, Bukan Berarti Tak Baca (Maaf)





      Biarkan dendam masih meradang dihidupnya. Kalau saat miskin dia hanya meminjam. Akan ada masanya dia kaya dan membeli semua yang dia ingin.


"Isma mau minjam bang, yang pertama," aku mengirim pesan via wa ke lelaki yang baru saja mengupload foto  siapa yang ingin meminjamkan bukunya. 

"Udah sold out, udah dipinjam orang dek haha," aku kecewa karena tak sesuai harap. 

"Tinggal yang ketiga," balasnya lagi.

"Yaudala itu ajala isma pinjam," 

"Oke, besok abang antar kesekret," jawabnya. Akupun senang jika akan dipinjamkan buku, yang berjudul Surat Untuk Ayah dan Ibu.

Belum berapa lama, dia mengirimkan pesan, dimana pesan tersebut berisikan pesan kepada sang peminjam buku, diantaranya untuk menjaga buku dengan sebaik mungkin, memulangkan tepat waktu, dan mereview buku tersebut. Itulah Bang Azwar, Ex Pemimpin Umum di LPM Dinamika yang selalu teratur, jelas, tuntas, dan yang tentu dia jomlo. 

              Selang beberapa hari, buku sudah ditanganku. Dan dihari berikutnya, aku lihat ada lelaki yang tak asing bagiku duduk santai disekret kami. Didepannya ada buku, aku yang sejak awal datang mulai melihat-lihat buku itu dari kejauhan. Sekadar ingin tau judulnya. Tapi ternyata aku tidak bisa menahan, aku mengambil dengan cepat buku yang tegeletak dilaptop itu. Ternyata judulnya Dejavu, dan penulisnya adalah dosen favoritku; Suryo Adi Syahputra. 

"Eh eh, buku abang itu," ternyata dia merespon tindakan ku dengan sangat cepat. 

"Yah bang, nak minjam inila," aku mulai lesu. Menyangka dia takkan meminjamkan. 

"Yauda abang kasih pinjam, tapi cuma tiga hari," 

"Masyaallah tiga hari. Ya kali isma siap. Ini aja isma masih baca buku ini, 100an halaman lagi belum tebaca." jawabku sambil menunjukkan buku yang ada di tangan kanan ku. Itu buku yang seminggu lalu ku pinjam, berjudul "Risalah Habil dan Qabil" yang memiliki 361 halaman.


"Yauda, satu minggu," jawabnya. Aku hanya diam sambil mulai membuka-buka buku itu. Dan, aku dapat pinjaman buku lagi dari dia, yang ku sebut-sebut sebagai Bang Fikri; Alumni Ga Jadi. 

          Dan, kini ada empat buku ditanganku, berjudul Rentang Kisah milik Mbak Enggar, Risalah Habil Qabil milik Permin Dinamika, Surat Untuk Ayah dan Ibu milik bang Azwar, dan Dejavu milik bang Fikri.

       Belum sampai permohonan maaf, Miranda, mengajakku kerumahnya. Dan akupun menginap disana. Beberapa buku membikin ku lagi dan lagi tak tertahan. 

"Mir, minjam ini ya,"

"iyo," simple meminjam dengannya. Tak ada syarat. Buku yang berjudul Setan Pun Ingin Kembali Ke Syurga, sudah ada ditangan. "yes" dalam hatiku senang. 

            Lima buku ditangan, beberapa hari kemudian, aku menyelesaikan semua buku itu. Risalah Habil Qabil telah ku kembalikan ke Permin, Rentang Kisah ku kembalikan baru-baru, dikarenakan lupa. Dan tersisa buku Bang Azwar, bang Fikri, dan Mira. Semua sudah ku baca, hanya saja, pelupa ku mengalahkan segalanya. Hingga kini, hampir satu bulan. Buku mereka masih membersamaiku. Apalagi buku bg Azwar yang hingga kini juga belum ku review, karena jaringan ku selalu susah untuk membuka Ig.


          Dalam tulisan ini, aku mau bilang permohonan maaf untuk orang-orang yang ku pinjam bukunya namun hingga kini belum ku kembalikan. Jangan bosan meminjamkan buku lagi ke Isma. Jangan jera, jangan simpulkan isma tak amanah. Jangan!!!! Kalau sekarang aku yang heboh meminjam, mungkin kelaknya, aku yang hobi meminjamkan. Mari Yim^^
#Day9
#buku
#CeritaRamadanku
#29haringeblog

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Sikap diDepan Kue Raya

Ada istilah, orang zaman dulu dan orang zaman sekarang. Kalau orang zaman dulu tandanya dia sudah tua dizaman sekarang. Dan orang zaman sekarang, dia sudah modern, tidak seperti orang zaman dulu yang dikenal kuno. Dalam tradisi hari raya idul fitri, juga sering terlintas kalimat yang barangkali tak sengaja ditutur " Dari tahun ketahun ini aja kuenya". Tak perlu menggeleng, ini hanya untuk yang sependapat denganku. Hal yang ditunggu bagi orang yang halal-bihalal selain THRnya, ialah melihat kue-kuenya. Yang tersaji diatas meja dengan sajian unik diatas tempat kue. Entah itu tempat kue kaca, ataupun plastik. Kalau kalian semodel atau sesikap denganku, apa yang pertama kalian lakukam ketika sampai ketempat saudara atau tetangga? Aku menjawab, aku akan membuka semua tutup tempat kue yang ada didepanku. Itu sudah ku anggap tradisi setiap datang kerumah-rumah. Sejak kecil, kebiasaan itu terus terjadi sampai aku dewasa seperti ini. Bukan perihal aku doyan dan aku memakan semuany...

Bukan Sekadar Maaf

Lebaran, merupakan klimaks nya umat muslim disaat bulan ramadan. Banyak hal yang sudah dilewati setiap muslim selama berpuasa. Dan perihal ibadah selama dibulan ramadan, mari kembalikan kepada Allah. Jika membahas soal lebaran, apa yang tersirat selain baju baru, thr, dan mudik? Benar, itulah tradisi bermaaf-maafan. Aku pernah bertanya kepada seorang temanku, kenapa dia kemaren meminta maaf atas semua kesalahan yang ia perbuat terhadapku, namun setelahnya ia kembali lagi membuat kesalahan yang itu bukan tanpa disengaja. Kenapa? Dan dengan singkat dia menjawab,  "Kan kemarin lebarannya". Aku terdiam,  dan hanyut pada kebingungan. Sampai sekarang, aku tak pernah lagi menanyakan hal demikian kepada temanku yang lainnya. Malah yang ada, aku takut mendapat kalimat demikian lagi. Kalau soal lebaran, dalam islam juga dikatakan bahwa lebaran itu mempertandakan bahwa kita umat islam akan segera kembali ke fitrah. Tanda bahwa kita akan menjadi muslim yang baru. Maka dari itu semua ...

Perempuan, Aku Tau Kita Rumit. Tapi Jangan Menyusahkan.

Benar-benar lelah harus bagaimana merespon perempuan.  Benar-benar kesal bagaimana bertanya tanpa menyinggung perempuan.  Benar-benar heran bagaimana menjawab tanpa menyakiti perempuan.  Dan benar-benar letih, bagaimana sebaiknya bersikap di atas kata Hargai Perempuan. Tapi,  "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13) Bukan hanya perkara berpasangan dengan perempuan, tapi hubungan dengan ibu, teman, saudari, keluarga perempuan, pasti selalu menemukan hal-hal yang bikin, "Segitunya jadi perempuan". Siapapun, kita butuh perempuan. Siapapun kita butuh sosok ibu. Siapapun, kita butuh kita menjadi perempuan yang benar-benar paham akan kodrat, tanggungjawab, dan sebenarnya tak...