![]() |
| Sumber: google.com |
Ini, kali ketiga bagiku untuk sahur tanpa keluarga dikampung halaman. Bukan perihal itu memang hal yang wajar bagi para penuntut ilmu, tapi ini perihal bagaimana kita sebagai anak perantauan terbiasa akan hal itu. Awalnya aku mengira, aku bisa pulang kampung minggu ini, tapi karena beberapa amanah belum ku selesaikan, sehingga membuatku harus terikut kata hati, oke. Aku gak bakal pulang.
Sahur pertama memang serasa dilema jika jauh dari keluarga. Sudah jauh dari keluarga, malah ditambah tidak ada teman untuk sahur. Kasihan juga. Sebenarnya orang yang menjadi anak perantauan itu ada banyak, diantaranya karena tuntutan pekerjaan, mencari ilmu dikota lain, dan telah memiliki keluarga baru. Diposisi mana kita sebenarnya yang saat ini sedang sahur sendirian? Apapun posisi kita, kita seharusnya tahu beberapa trik untuk tak lagi merasa jauh dari keluarga. Mungkin lebih tepatnya mengubah sahur rasa dilema, menjadi sahur rasa cinta,walau jauh dari keluarga.
Mengubah Sahur Pertama Agar Tak Lagi Dilema
Silahkan mendo’akan keluarga dari kejauhan. Jangan menyepelekan do’a. Setidaknya dengan mendo’akan, akan merasa lebih dekat dengan keluarga. Atau kalau itu memang belum manjur, relakan kuota mu berkurang, yaitu dengan memulai panggilan video; video call dengan keluarga. Ya harus dengan syarat utama, yaitu harus sama-sama memiliki gadzet.
Kalaulah memang mendo’akan, dan video call tidak juga mempan, maka silahkan ber-Istighfar. Jangan selalu menggalaukan diri yang sendiri, mengeluhkan hidup yang sedang jauh dari keluarga. Ingat, Innallaha Ma’aashobirin.
Pesan Dari Penulis Amatir
Kalau ada yang bilang jangan lihat siapa yang berbicara, tapi lihat apa yang disampaikan. Dan sekarang dalam tulisan ini, aku menyetujui kalimat itu. Bahwa aku ini apalah, dengan berlagak dan dengan percaya dirinya membuat subjudul ingin memberi pesan. Tapi ada baiknya juga jika pesanku ada beberapa yang mengikuti.
Kepada kita, anak perantauan, entah anak perantauan dalam kategori apa, yang jelas kita memang harus bisa membiasakan diri jika jauh dari keluarga, agar saat bulan ramadan seperti ini datang lagi ditahun berikutnya, kita sudah punya trik mana kala semisal kita jauh lagi dari keluarga. Untuk kita, para penuntut ilmu, mulailah dewasa, tak melulu kalau rindu, kita harus pulang kerumah. Dan tak melulu kalau ramadan seperti ini, kita memaksakan diri untuk pulang, padahal amanah dan tanggungjawab kita belum diselesaikan.
Dan untuk kalian yang jauh dari keluarga karena tuntutan pekerjaan, yang mungkin dua tahun lalu sahur sendiri, tahun kemarin sahur sendiri, tahun ini pun sendiri, Menikahlah. Biar ada teman sahurnya. Dan entar ketika lebaran, mudiknya bareng keluarga baru, gak sendiri lagi. Beda sama yang anak perantauan karena menuntut ilmu ya, mereka pulang kampung paling lama seminggu sebelum lebaran, sendiripun ga masalah.
Akhir kata, semangat untuk bangun sahur disahur selanjutnya walau sedang jauh dari keluarga!!!! Mari Yim^^
#CeritaRamadanku
#29HariNgeblog
#Day1

Kayaknya abang mesti nikah cepat cepat niih..
BalasHapusDan, pada akhirnya itulah kesimpulannya hahaaa
HapusNgebaca "amatir" kayak lagi berkaca. Hihii..
BalasHapusSalam kenal isma.. yuk mampur ke blog kakak mimipi-mimpipenulisamatir.blogspot.com 😉
Haha kakak mah udah ga amatir lagi. Salam kenal juga kaek. Siap, ini mau mampir kak.
HapusCemangat ea isma... ^_^
BalasHapusEaa bang mik makasi eaa
HapusPuasa di peeantauan kayak ada seru serunya lhoo. Abang udh ngalamain tahunan..
BalasHapus