Langsung ke konten utama

Merindu Masa Tadarus Bersama: Pulo Jantan.

            Malam kembali lagi datang. Posisi bulan saat itu menggantikan matahari yang sejak tadi bertengger diangkasa. Orang-orang ramai berjalan menuju Masjid yang megah dikampung itu. Mulai dari bocah, hingga yang tua, semua berbondong ke masjid. Pemandangan jalanan kampung yang diwarnai dengan corak masing-masing mukenah dan baju koko yang digunakan jamaah sangat sayang jika aku bukan bagian dari mereka. Sampai, bocah 12 tahun dengan mukenah polos berwarna putih tak pernah henti semangatnya untuk ikut melakukan tarawih di bulan ramadan. Lebih ia nantikan, untuk mengikuti tadarusan di masjid bersama yang lain.
          Itulah aku, dengan bergairah setiap waktu salat tarawih aku berkemas lebih dulu dibanding orang tuaku. Terkadang pula namaku yang dipanggil mereka manakala aku kelamaam keluar rumah. Masih berbekas dalam ingatan ku dengan jelas, usia 12 tahunan ternyata aku sudah bisa meninggalkan sikap bocahku, yaitu dengan tidak bercerita saat salat, mengambil shaff paling depan. Dan tak ada melakukan istirahat saat salat berlangsung.
             Sampai tarawih selesai, lebih keliatan bersemangatnya aku ketika teman-teman yang lain mengajak untuk tadarus. Bahagianya bisa berteman dengan banyak orang. Walau teman sekitat rumah tidak mau tadarus, setidaknya ada teman lain yang selalu membujukku tadarus. Tadarus dimasjid kami masih seperti tahun-tahun lalu, yaitu dengan membentuk beberapa kelompok dan menyelesaikan satu juz satu kelompok. Dan lagi, sejak dulu aku selalu menolak untuk kelompokku agar tak menggunakan mic. Bukan karena takit ditegur warga karena tajwid, tapi karena tak pernah pede akan suaraku ini.
            Belum lagi ketika tadarus disuguhkan snack seperti gorengan, buah, dan jajanan lain. Masa tadarus bersama teman memang menyejukkan. Dan, sangat ku ingat, bahwa merekalah yang sejak aku kecil, kira-kira usia 8 tahun, hingga usia yang beranjak dewasa, merekalah temanku, adikku, kakakku, yang selalu mengajak tadarus bersama. Ingin rasanya aku kembali pulang ke kampung halaman, dan mengikuti tadarus dimasjid lagi. Walau mungkin bukan bersama orang yang sama seperti dulu. Sekarang, ku ingin kembali ke kampungku: Pulo Jantan.

#Day5
#tadarus
#CeritaRamadanku
#29haringeblog

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Sikap diDepan Kue Raya

Ada istilah, orang zaman dulu dan orang zaman sekarang. Kalau orang zaman dulu tandanya dia sudah tua dizaman sekarang. Dan orang zaman sekarang, dia sudah modern, tidak seperti orang zaman dulu yang dikenal kuno. Dalam tradisi hari raya idul fitri, juga sering terlintas kalimat yang barangkali tak sengaja ditutur " Dari tahun ketahun ini aja kuenya". Tak perlu menggeleng, ini hanya untuk yang sependapat denganku. Hal yang ditunggu bagi orang yang halal-bihalal selain THRnya, ialah melihat kue-kuenya. Yang tersaji diatas meja dengan sajian unik diatas tempat kue. Entah itu tempat kue kaca, ataupun plastik. Kalau kalian semodel atau sesikap denganku, apa yang pertama kalian lakukam ketika sampai ketempat saudara atau tetangga? Aku menjawab, aku akan membuka semua tutup tempat kue yang ada didepanku. Itu sudah ku anggap tradisi setiap datang kerumah-rumah. Sejak kecil, kebiasaan itu terus terjadi sampai aku dewasa seperti ini. Bukan perihal aku doyan dan aku memakan semuany...

Bukan Sekadar Maaf

Lebaran, merupakan klimaks nya umat muslim disaat bulan ramadan. Banyak hal yang sudah dilewati setiap muslim selama berpuasa. Dan perihal ibadah selama dibulan ramadan, mari kembalikan kepada Allah. Jika membahas soal lebaran, apa yang tersirat selain baju baru, thr, dan mudik? Benar, itulah tradisi bermaaf-maafan. Aku pernah bertanya kepada seorang temanku, kenapa dia kemaren meminta maaf atas semua kesalahan yang ia perbuat terhadapku, namun setelahnya ia kembali lagi membuat kesalahan yang itu bukan tanpa disengaja. Kenapa? Dan dengan singkat dia menjawab,  "Kan kemarin lebarannya". Aku terdiam,  dan hanyut pada kebingungan. Sampai sekarang, aku tak pernah lagi menanyakan hal demikian kepada temanku yang lainnya. Malah yang ada, aku takut mendapat kalimat demikian lagi. Kalau soal lebaran, dalam islam juga dikatakan bahwa lebaran itu mempertandakan bahwa kita umat islam akan segera kembali ke fitrah. Tanda bahwa kita akan menjadi muslim yang baru. Maka dari itu semua ...

Perempuan, Aku Tau Kita Rumit. Tapi Jangan Menyusahkan.

Benar-benar lelah harus bagaimana merespon perempuan.  Benar-benar kesal bagaimana bertanya tanpa menyinggung perempuan.  Benar-benar heran bagaimana menjawab tanpa menyakiti perempuan.  Dan benar-benar letih, bagaimana sebaiknya bersikap di atas kata Hargai Perempuan. Tapi,  "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13) Bukan hanya perkara berpasangan dengan perempuan, tapi hubungan dengan ibu, teman, saudari, keluarga perempuan, pasti selalu menemukan hal-hal yang bikin, "Segitunya jadi perempuan". Siapapun, kita butuh perempuan. Siapapun kita butuh sosok ibu. Siapapun, kita butuh kita menjadi perempuan yang benar-benar paham akan kodrat, tanggungjawab, dan sebenarnya tak...