Langsung ke konten utama

Jangan Ngaret Beramal Karena Bukber

           Buka bersama, sudah tak lagi asing. Memang menjadi sebuah tradisi pada beberapa orang saat bulan ramadan tiba. Bahkan, jauh sebelum ramadan, ada sebagian yang telah berkoak menanyakan dan menginformasikan, "puasa tar kita bukber ya".  Sejak menduduki masa sekolah, tawaran ajakan bukber itu rasanya hampir bosan ku dengar. Ya gimana, kalau dilihat dari riwayat pendidikanku, ini membuat aku bahkan pusing sendiri.
            Mulai dari TK, SD N Sidomulyo, SD N Pulo Jantan, SMP N Aek Kota Batu, SMA N Sukarame, SMANSA Ratu, UIN SU. Riwayat pendidikan ternyata menjadi kebingungan tersendiri saat ramadan tiba. Padahal, kebanyakan yang memberi tawaran, aku sudah tak ingat dia siapa. Belum lagi organisasi yang sejak dulu ku ikuti. Rentetan jadwal bukber ternyata harus disusun secara rapi dan harus waspada.
               Kenapa waspada? Aku pernah mendengar ceramah ustad, bahwa ramadan sebagai bulan yang suci seharusnya kita mampu memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk beribadah, beribadah, dan selalu beribadah. Apalagi dengan menjauhkan diri dari hal-hal yang subhat, yang memungkinkan akan memunculkan dosa. Dan nyatanya, saat bulan ramadan, berbuka puasa bersama atau istilahnya bukber bersama teman-teman seperjuangan disekolah, organisasi, kampus, angkatan, komunitas, tim, teman kerja, dan lainnya, dengan berembelkan sebagai Ajang Silaturahmi menjadi hal yang selalu dan wajib dilakukan saat bulan ramadan.
             Ustad berkata, bahwa itu tergantung orangnya bagaimana. Bisa tidak memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin. Karena saat bukber, kebanyakan orang merancang rundown, berkumpul sebelum berbuka, harus sudah datang 1 jam sebelumnya. Sehingga menimbulkan campur baur dengan yang lain, barangkali dengan lawan jenis, dan mulai bercengkrama mengingat moment dahulu, sehingga berujung pada membuka aib si A lagi, aib si B lagi, atau bahkan aibnya sendiri. Dan, bukan hanya itu, bisa saja ketika adzan berkumandang, shalat maghrib jadi diakhir waktu, pun jadi mager (males gerak) untuk pulang melakukan salat tarawih.
            Itulah hal-hal yang biasa terjadi, ini bukan mengada. Aku juga merasa ustad tersebutpun memiliki pengalaman bukber dengan teman sejawat. Maka dia bisa berkata kurang lebih seperti itu. Ya benar, itu juga yang ku alami ketika bukber bersama teman-teman.
Tapi, aku juga tak menyalahkan kalau ada orang bukber, karena itu juga sebagai silaturahmi yang mungkin entah sudah berapa lama tidak berjumpa satu sama lain. Maka dari itu dalam tulisan ini, benar! 
              Aku tidak mengatakan bukber itu salah. Bukan. Toh aku juga sering bukber. Nah, aku menyalahkan diriku sendiri yang selalu bukber. Mulai 23-30, rasanya jadwal bukber dimulai, bukber ini itu atau apalah.  Ini yang ku katakan sedikit salah. Karena ujungnya, aku bakal menyusahkan orang tua, yang meminta uang kiriman lagi karena uangku yang habisnya untuk bukber bukber dan bukber.

#Day3
#bukber
#CeritaRamadanku
#29haringeblog

Komentar

  1. Makanya klo bukber, di masjid aja dek. Gretong.. wkwkwkwkkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaaa itu bukber gratisan kak dari BKM wkwk

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Sikap diDepan Kue Raya

Ada istilah, orang zaman dulu dan orang zaman sekarang. Kalau orang zaman dulu tandanya dia sudah tua dizaman sekarang. Dan orang zaman sekarang, dia sudah modern, tidak seperti orang zaman dulu yang dikenal kuno. Dalam tradisi hari raya idul fitri, juga sering terlintas kalimat yang barangkali tak sengaja ditutur " Dari tahun ketahun ini aja kuenya". Tak perlu menggeleng, ini hanya untuk yang sependapat denganku. Hal yang ditunggu bagi orang yang halal-bihalal selain THRnya, ialah melihat kue-kuenya. Yang tersaji diatas meja dengan sajian unik diatas tempat kue. Entah itu tempat kue kaca, ataupun plastik. Kalau kalian semodel atau sesikap denganku, apa yang pertama kalian lakukam ketika sampai ketempat saudara atau tetangga? Aku menjawab, aku akan membuka semua tutup tempat kue yang ada didepanku. Itu sudah ku anggap tradisi setiap datang kerumah-rumah. Sejak kecil, kebiasaan itu terus terjadi sampai aku dewasa seperti ini. Bukan perihal aku doyan dan aku memakan semuany...

Bukan Sekadar Maaf

Lebaran, merupakan klimaks nya umat muslim disaat bulan ramadan. Banyak hal yang sudah dilewati setiap muslim selama berpuasa. Dan perihal ibadah selama dibulan ramadan, mari kembalikan kepada Allah. Jika membahas soal lebaran, apa yang tersirat selain baju baru, thr, dan mudik? Benar, itulah tradisi bermaaf-maafan. Aku pernah bertanya kepada seorang temanku, kenapa dia kemaren meminta maaf atas semua kesalahan yang ia perbuat terhadapku, namun setelahnya ia kembali lagi membuat kesalahan yang itu bukan tanpa disengaja. Kenapa? Dan dengan singkat dia menjawab,  "Kan kemarin lebarannya". Aku terdiam,  dan hanyut pada kebingungan. Sampai sekarang, aku tak pernah lagi menanyakan hal demikian kepada temanku yang lainnya. Malah yang ada, aku takut mendapat kalimat demikian lagi. Kalau soal lebaran, dalam islam juga dikatakan bahwa lebaran itu mempertandakan bahwa kita umat islam akan segera kembali ke fitrah. Tanda bahwa kita akan menjadi muslim yang baru. Maka dari itu semua ...

Perempuan, Aku Tau Kita Rumit. Tapi Jangan Menyusahkan.

Benar-benar lelah harus bagaimana merespon perempuan.  Benar-benar kesal bagaimana bertanya tanpa menyinggung perempuan.  Benar-benar heran bagaimana menjawab tanpa menyakiti perempuan.  Dan benar-benar letih, bagaimana sebaiknya bersikap di atas kata Hargai Perempuan. Tapi,  "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13) Bukan hanya perkara berpasangan dengan perempuan, tapi hubungan dengan ibu, teman, saudari, keluarga perempuan, pasti selalu menemukan hal-hal yang bikin, "Segitunya jadi perempuan". Siapapun, kita butuh perempuan. Siapapun kita butuh sosok ibu. Siapapun, kita butuh kita menjadi perempuan yang benar-benar paham akan kodrat, tanggungjawab, dan sebenarnya tak...