Langsung ke konten utama

Harus Bertoleransi, Tanpa Negosiasi

           Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki banyak keberagamaan, baik itu suku, adat, ras, dan agama. Perbedaan yang tampak dari diri penduduk Indonesia bukan menjadi penghalang dalam kehidupan, apalagi dianggap sebagai penghalang untuk membangun kerukunan bangsa. Justru dengan perbedaan, masyarakat akan terjalin tali persaudaraannya, seperti semboyan Indonesia, "Bhineka Tunggal Ika". Tampaknya beberapa masyarakat Indonesia sudah mencerminkan semboyan tersebut dengan cara bertoleransi.
            Toleransi merupakan sikap saling menghormati dan menghargai antarkelompok atau antarindividu dalam masyarakat. Berdasarkan kacamata penulis, penduduk Indonesia juga telah melakukan toleransi, mampu menghargai, apalagi dalam beragama. Walau dianggap hanya beberapa saja orang yang saling bertoleransi, terlihat saat Indonesia kembali digemparkan dengan pemberitaan bom bunuh diri yang dilakukan dibeberapa rumah ibadah.
            Sangat disayangkan karena masyarakat lebih menyimpulkan bahwa itu adalah perilaku ummat Islam. Malah masyarakat beberapa ada yang mengira ummat Islam yang selalu menggunakan cadar, berjenggot, celana cingkrang, adalah ciri-ciri teroris.
            Tragedi itu yang akhirnya muncul ekspedisi baru yang dilakukan komunitas Islam yang akhirnya banyak diikuti kalangan anak muda yang menggunakan sunnah Rasul dalam hal berpenampilan, seperti bercadar dan berjenggot. Ekspedisi yang dilakukan dengan turun langsung ke lapangan, dan dengan membawa kertas bertuliskan "Peluk Saya Jika Kamu Merasa Aman" memperlihatkan bahwa masih banyak ummat beragama yang saling bertoleransi.
            Dalam beberapa video yang diviralkan melalui media Instagram atau youtobe, terlihat bahwa tak hanya orang yang memakai jilbab yang memeluk, tapi juga orang-orang yang non muslim. Ada beberapa yang sampai menitihkan air mata. Ternyata, masih ada beberapa masyarakat Indonesia yang mau bertoleransi antar sesama.
             Bukan hanya itu, contoh yang mudahnya ialah bagi mereka yang tak ikut menjalankan ibadah puasa dibulan ramadan. Warung-warung makan, kebanyakan akan menutup warungnya walau tak seluruhnya. Hanya karena menghargai orang yang sedang berpuasa. Pun, demikian juga bagi mereka yang non muslim. Jika ingin makan atau minum, mereka akan memilih tempat yang sesuai pada tempatnya. Maksudnya disini ialah agar tak terlihat oleh muslim lain yang sedang berpuasa.
             Karena hingga kini, aku yang berkuliah dekat dengan salah satu universitas khusus untuk yang non muslim, aku belum pernah melihat mereka makan atau minum di tempat terbuka saat mereka melewati kampusku. Lebih terangnya, ada yang ku lihat beberapa membeli jajanan depan kampus dan langsung memasukkannya kedalam ranselnya. Padahal, itu jajanan yang berkuah dan tentu akan menyebar bau karena lembab didalam plastik dan dalam ransel itu.
           Ringkasnya,dari banyaknya jumlah penduduk Indonesia, InsyaAllah, akan selalu menjaga komunikasi walau berbeda SARA. Dan harus tetap bertoleransi antar sesama.

#Day8
#toleransi
#CeritaRamadanku
#29HariNgeblog

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Sikap diDepan Kue Raya

Ada istilah, orang zaman dulu dan orang zaman sekarang. Kalau orang zaman dulu tandanya dia sudah tua dizaman sekarang. Dan orang zaman sekarang, dia sudah modern, tidak seperti orang zaman dulu yang dikenal kuno. Dalam tradisi hari raya idul fitri, juga sering terlintas kalimat yang barangkali tak sengaja ditutur " Dari tahun ketahun ini aja kuenya". Tak perlu menggeleng, ini hanya untuk yang sependapat denganku. Hal yang ditunggu bagi orang yang halal-bihalal selain THRnya, ialah melihat kue-kuenya. Yang tersaji diatas meja dengan sajian unik diatas tempat kue. Entah itu tempat kue kaca, ataupun plastik. Kalau kalian semodel atau sesikap denganku, apa yang pertama kalian lakukam ketika sampai ketempat saudara atau tetangga? Aku menjawab, aku akan membuka semua tutup tempat kue yang ada didepanku. Itu sudah ku anggap tradisi setiap datang kerumah-rumah. Sejak kecil, kebiasaan itu terus terjadi sampai aku dewasa seperti ini. Bukan perihal aku doyan dan aku memakan semuany...

Bukan Sekadar Maaf

Lebaran, merupakan klimaks nya umat muslim disaat bulan ramadan. Banyak hal yang sudah dilewati setiap muslim selama berpuasa. Dan perihal ibadah selama dibulan ramadan, mari kembalikan kepada Allah. Jika membahas soal lebaran, apa yang tersirat selain baju baru, thr, dan mudik? Benar, itulah tradisi bermaaf-maafan. Aku pernah bertanya kepada seorang temanku, kenapa dia kemaren meminta maaf atas semua kesalahan yang ia perbuat terhadapku, namun setelahnya ia kembali lagi membuat kesalahan yang itu bukan tanpa disengaja. Kenapa? Dan dengan singkat dia menjawab,  "Kan kemarin lebarannya". Aku terdiam,  dan hanyut pada kebingungan. Sampai sekarang, aku tak pernah lagi menanyakan hal demikian kepada temanku yang lainnya. Malah yang ada, aku takut mendapat kalimat demikian lagi. Kalau soal lebaran, dalam islam juga dikatakan bahwa lebaran itu mempertandakan bahwa kita umat islam akan segera kembali ke fitrah. Tanda bahwa kita akan menjadi muslim yang baru. Maka dari itu semua ...

Perempuan, Aku Tau Kita Rumit. Tapi Jangan Menyusahkan.

Benar-benar lelah harus bagaimana merespon perempuan.  Benar-benar kesal bagaimana bertanya tanpa menyinggung perempuan.  Benar-benar heran bagaimana menjawab tanpa menyakiti perempuan.  Dan benar-benar letih, bagaimana sebaiknya bersikap di atas kata Hargai Perempuan. Tapi,  "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13) Bukan hanya perkara berpasangan dengan perempuan, tapi hubungan dengan ibu, teman, saudari, keluarga perempuan, pasti selalu menemukan hal-hal yang bikin, "Segitunya jadi perempuan". Siapapun, kita butuh perempuan. Siapapun kita butuh sosok ibu. Siapapun, kita butuh kita menjadi perempuan yang benar-benar paham akan kodrat, tanggungjawab, dan sebenarnya tak...