Langsung ke konten utama

Dia Ibu Penjual di Talago

           Warung makan, bukan sebatas warung untuk makan dan mengisi perut yang kosong. Tapi juga sebagai wadah kumpulnya orang-orang yang berbeda dan bertemu dalam sebuah meja-meja yang berpisah. Ya simple nya itu tempat bagi orang kelaparan juga sih.
Dikampus, jujur saja aku bingung untuk mencari warung makan. Karena terbatas. Tak lama akhirnya aku dan temanku menemukan warung makan didepan kampus, dan aku tak suka itu. Entah kenapa, rasanya kurang nyaman. Itu saja. Hingga akhirnya kami menemukan tempat baru, namanya Talago.
             Warung nasi pada umumnya memiliki rasa yang sama, hanya saja bagaimana pelayanan penjualnya, dan rasa manis dinginnya yang khas, yang membuat pembeli menetapkan diri sebagai pelanggan yang setia diwarung tersebut. Sama halnya seperti kami, yang sekarang telah menjadikan talago sebagai warung makan langganan kami.
          Sejak awal kami makan nasi disitu, rasanya sudah ada kenyamanan dengan ibu penjualnya, yang kami sendiripun tak tau siapa namanya. Yang jelas, dia baik, ramah, dan kalimat yang tak bisa ku lupa, membuatku berat meninggalkannya itu "Kalian libur ya? Kemana aja? Ibuk tunggui ga ada datang juga". Begitulah kira-kira. Keakraban kami dengannya bukan lagi seperti penjual dan pembeli, tapi seperti anak yang ramai datang kerumah lalu memanggil "bukk, kayak biasa ya. Bukk, pake ayam ya. Bukk manis dinginnya 4 ya" atau semacamnya.
           Sampai, ramaipun keadaan, dia tetap mendahulukan kami, yang padahal bukan kami pembeli pertama. Tapi itulah, dengan percaya diri aku menyatakan bahwa dia nyaman dengan kami. Kalau tidak, ya mungkin ini hanya kepedeanku. Hingga, saat ramadan akan tiba, kami berpamitan dengan ibu disaat setelah makan siang. Dia bertanya "Kalian gak libur? " kami menggeleng, sambil berkata "ibuk tetap buka lah ya? Biar kami bisa bukber disini" ibu hanya tersenyum.
            Dan nyatanya sekarang, teman-temanku yang berhalangan berpuasa yang sudah bisa menikmati makanannya, sedangkan kami, langganan ibu talago, tidak bisa berkesempatan makan disana. Intinya, semua tentang ibu talago. Ana rindu.

#Day12
#warungmakan
#CeritaRamadanku
#29HariNgeblog

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Sikap diDepan Kue Raya

Ada istilah, orang zaman dulu dan orang zaman sekarang. Kalau orang zaman dulu tandanya dia sudah tua dizaman sekarang. Dan orang zaman sekarang, dia sudah modern, tidak seperti orang zaman dulu yang dikenal kuno. Dalam tradisi hari raya idul fitri, juga sering terlintas kalimat yang barangkali tak sengaja ditutur " Dari tahun ketahun ini aja kuenya". Tak perlu menggeleng, ini hanya untuk yang sependapat denganku. Hal yang ditunggu bagi orang yang halal-bihalal selain THRnya, ialah melihat kue-kuenya. Yang tersaji diatas meja dengan sajian unik diatas tempat kue. Entah itu tempat kue kaca, ataupun plastik. Kalau kalian semodel atau sesikap denganku, apa yang pertama kalian lakukam ketika sampai ketempat saudara atau tetangga? Aku menjawab, aku akan membuka semua tutup tempat kue yang ada didepanku. Itu sudah ku anggap tradisi setiap datang kerumah-rumah. Sejak kecil, kebiasaan itu terus terjadi sampai aku dewasa seperti ini. Bukan perihal aku doyan dan aku memakan semuany...

Bukan Sekadar Maaf

Lebaran, merupakan klimaks nya umat muslim disaat bulan ramadan. Banyak hal yang sudah dilewati setiap muslim selama berpuasa. Dan perihal ibadah selama dibulan ramadan, mari kembalikan kepada Allah. Jika membahas soal lebaran, apa yang tersirat selain baju baru, thr, dan mudik? Benar, itulah tradisi bermaaf-maafan. Aku pernah bertanya kepada seorang temanku, kenapa dia kemaren meminta maaf atas semua kesalahan yang ia perbuat terhadapku, namun setelahnya ia kembali lagi membuat kesalahan yang itu bukan tanpa disengaja. Kenapa? Dan dengan singkat dia menjawab,  "Kan kemarin lebarannya". Aku terdiam,  dan hanyut pada kebingungan. Sampai sekarang, aku tak pernah lagi menanyakan hal demikian kepada temanku yang lainnya. Malah yang ada, aku takut mendapat kalimat demikian lagi. Kalau soal lebaran, dalam islam juga dikatakan bahwa lebaran itu mempertandakan bahwa kita umat islam akan segera kembali ke fitrah. Tanda bahwa kita akan menjadi muslim yang baru. Maka dari itu semua ...

Perempuan, Aku Tau Kita Rumit. Tapi Jangan Menyusahkan.

Benar-benar lelah harus bagaimana merespon perempuan.  Benar-benar kesal bagaimana bertanya tanpa menyinggung perempuan.  Benar-benar heran bagaimana menjawab tanpa menyakiti perempuan.  Dan benar-benar letih, bagaimana sebaiknya bersikap di atas kata Hargai Perempuan. Tapi,  "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13) Bukan hanya perkara berpasangan dengan perempuan, tapi hubungan dengan ibu, teman, saudari, keluarga perempuan, pasti selalu menemukan hal-hal yang bikin, "Segitunya jadi perempuan". Siapapun, kita butuh perempuan. Siapapun kita butuh sosok ibu. Siapapun, kita butuh kita menjadi perempuan yang benar-benar paham akan kodrat, tanggungjawab, dan sebenarnya tak...