Langsung ke konten utama

Ada Gerutu di 23 Rakaatku

         Hal yang paling dirindu pada bulan ramadan salah satunya adalah tarawih. Apalagi kalau sudah flashback  ke belakang mengingat berbondong teman sekitar rumah datang untuk mengajak ke Masjid melaksanakan tarawih. Bahagia bukan? Teman masa kecil bukan hanya mengajak untuk asrama subuh, tapi juga melaksanakan ibadah yang menurutku itu juga melelahkan(masa kecil).
        Lalu, bagaimana kalau sekarang? Apa aku atau teman-teman ku yang dulu juga masih merasakan nikmat tarawih bersama dengan keluarga dan teman terdekatnya untuk salat tarawih? Aku rasa tidak. Kecuali bagi dia yang merupakan anak perantauan yang dikatakan sudah hijrah dijalan Allah. Tapi mau gimanapun, anak perantauan juga harus mengikut tradisi dari warga yang ia tinggali. Mau tak mau, suka tak suka, memang harus kita ikuti.
           Contohnya saja saat tarawih yang *ehm. Jumlah rakaat memang tak menjadi masalah, memang baik setiap muslim melaksanakan dan memanfaatkan waktu untuk ibadah, ibadah dan ibadah. Tapi, bagaimana orang yang sedang melaksanakan ibadah tapi tak bernilai ibadah?? Tulisan ini bukan untuk menggurui, bukan pula untuk mudah meng claim itu salah. Toh aku juga banyak dosa. Tapi mungkin lebih mengarah kepada kesadaran kita.
             Dulu, dikampung halaman, aku salat tarawih 11 rakaat, dan ketika sampai di Medan, aku mendengar kabar bahwa tarawihnya berjumlah 23 rakaat. Oke mungkin kau akan paham maksudku akan membahas apa. Tentu ingin membahas bagaimana sikap kita ketika salat berlangsung. Ini hanya sebagai bahan evaluasi untuk kita. Judul yang ku buat itu sebenarnya mengacu kepada kita semua, bukan berarti judul yang menggunakan kata Ku itu karena pengalaman pribadiku. Aku hanya ingin membuat perumpamaan didiriku sendiri, tanpa melibatkan orang lain ku sebut sebagai subjeknya.
               Mari kita ulas bersama, walau memang aku belum turut ikut melaksanakan tarawih 23 rakaat karena suatu hal yang tentu kalianpun tau. Jadi begini, sadar atau tidak, benar atau salah, banyak atau sedikit, intinya, telah banyak jamaah yabg selalu menggerutu karena jumlah rakaat yang terlalu panjang, juga surah yang dibawakan imam terlalu panjang juga, membikin jamaah gelisah "lama kali."
Bukan hanya itu, mirisnya aku yang melaksanakan salat 11 rakaat saja sering menggerutu, sebab surah terlalu panjang terkadang. Apalagi kalau aku melaksankan salat 23 rakaat. Dan, aku ingin melaksanakannya ketika aku bisa diminggu depan untuk salat.
              Bagaimana seharusnya kita menjadi jamaah yang budiman, yang bersikap husnudzon kepada imam . Tentu dengan cara mengembalikan niat kita lagi, sebenarnya, untuk apasih kita salat tarawih. Kalau dari kita sebagai jamaah hanya disibukkan dengan menggerutu, bagaimana amalan kita? Dalam hati kita gelisah, dalam sikap kita resah, dalam fikiran kita ingin sudah saja, dan dalam akhir salat, kita malah gibah dengan jamaah lain.
              Iya, ini tulisan sedikit sensitif, tapi  ini bukan hanya sekadar pendapat, ini juga apa yang disampaikan beberapa ulama, ya walau aku melihat nya via youtobe. Mungkin sebagian dari kita sudah melaksanakan tarawih dengan ikhlas dan rido kepada Allah, namun mungkin sebagiannya hingga kini masih terus menggerutu.
               Karena pengalaman, dulu aku dikampung juga demikian, "Ma, siapa imamnya? " "yak, ini nanti imamnya siapa? " kalau dijawan ayah imamnya wak A, oke aku datang, dan memilih barisan paling depan. Tapi kalau dibilang imamnya wak B, aku tutur ke mama "ma, isma ga salat. Mama aja sama ayah". Iya! Dulu aku begitu. Jujur saja. (ini bukan membeberkan aib, bukan). Tapi ini sebagai ingatan bagi kita, sebenarnya kita ini sudah niat dari hati belum dalam beribadah.
Sangat disayangkan, kalau ramadan amalan kita hangus seketika hanya karena kita sepele dengan amalan lain.
             Mari bersama memperbaiki diri. Aku juga sekarang sedang memperbaiki diri, kamu, sang pembaca, juga harus segera perbaiki diri. Jadi biar sama kita saling perbaiki diri. Mana tau jodoh*abaikan.  Begitulah kira-kira. Semangat tarawih 23 atau lebih!! Jangan ada gerutu diantara rakaat dan kamu!

#tarawih
#29haringeblog
#CeritaRamadanku
#Day2

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Sikap diDepan Kue Raya

Ada istilah, orang zaman dulu dan orang zaman sekarang. Kalau orang zaman dulu tandanya dia sudah tua dizaman sekarang. Dan orang zaman sekarang, dia sudah modern, tidak seperti orang zaman dulu yang dikenal kuno. Dalam tradisi hari raya idul fitri, juga sering terlintas kalimat yang barangkali tak sengaja ditutur " Dari tahun ketahun ini aja kuenya". Tak perlu menggeleng, ini hanya untuk yang sependapat denganku. Hal yang ditunggu bagi orang yang halal-bihalal selain THRnya, ialah melihat kue-kuenya. Yang tersaji diatas meja dengan sajian unik diatas tempat kue. Entah itu tempat kue kaca, ataupun plastik. Kalau kalian semodel atau sesikap denganku, apa yang pertama kalian lakukam ketika sampai ketempat saudara atau tetangga? Aku menjawab, aku akan membuka semua tutup tempat kue yang ada didepanku. Itu sudah ku anggap tradisi setiap datang kerumah-rumah. Sejak kecil, kebiasaan itu terus terjadi sampai aku dewasa seperti ini. Bukan perihal aku doyan dan aku memakan semuany...

Bukan Sekadar Maaf

Lebaran, merupakan klimaks nya umat muslim disaat bulan ramadan. Banyak hal yang sudah dilewati setiap muslim selama berpuasa. Dan perihal ibadah selama dibulan ramadan, mari kembalikan kepada Allah. Jika membahas soal lebaran, apa yang tersirat selain baju baru, thr, dan mudik? Benar, itulah tradisi bermaaf-maafan. Aku pernah bertanya kepada seorang temanku, kenapa dia kemaren meminta maaf atas semua kesalahan yang ia perbuat terhadapku, namun setelahnya ia kembali lagi membuat kesalahan yang itu bukan tanpa disengaja. Kenapa? Dan dengan singkat dia menjawab,  "Kan kemarin lebarannya". Aku terdiam,  dan hanyut pada kebingungan. Sampai sekarang, aku tak pernah lagi menanyakan hal demikian kepada temanku yang lainnya. Malah yang ada, aku takut mendapat kalimat demikian lagi. Kalau soal lebaran, dalam islam juga dikatakan bahwa lebaran itu mempertandakan bahwa kita umat islam akan segera kembali ke fitrah. Tanda bahwa kita akan menjadi muslim yang baru. Maka dari itu semua ...

Perempuan, Aku Tau Kita Rumit. Tapi Jangan Menyusahkan.

Benar-benar lelah harus bagaimana merespon perempuan.  Benar-benar kesal bagaimana bertanya tanpa menyinggung perempuan.  Benar-benar heran bagaimana menjawab tanpa menyakiti perempuan.  Dan benar-benar letih, bagaimana sebaiknya bersikap di atas kata Hargai Perempuan. Tapi,  "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13) Bukan hanya perkara berpasangan dengan perempuan, tapi hubungan dengan ibu, teman, saudari, keluarga perempuan, pasti selalu menemukan hal-hal yang bikin, "Segitunya jadi perempuan". Siapapun, kita butuh perempuan. Siapapun kita butuh sosok ibu. Siapapun, kita butuh kita menjadi perempuan yang benar-benar paham akan kodrat, tanggungjawab, dan sebenarnya tak...