Kalau negosiasi ada dipasar, berarti selama ini aku ada dipasar.
Orang beranggapan, pasar merupakan tempatnya para penjual dan pembeli untuk melakukan proses jual beli barang, dengan cara negosiasi. Akupun sependapat akan hal itu, tapi izinkan aku mengatakan pendapatku yang berbeda. Bahwa pasar merupakan tempat negosiasi yang didalamnya terdapat hiruk pikuk dari orang-orangnya. Benar bukan? Jika kau pernah mendatangi pasar, tentu yang pertama kau ucap ialah "Rame kali". Kalau aku, bahkan berkali-kali ke pasar, aku selalu berucap sedemikian. Karena memang, disitu aku dapat melihat keberagaman, ada penjual bersuku batak, jawa, ada ku lihat banyak usia, mulai dari yang muda, hingga tua, ada banyak jajanan yang tersedia, banyak buah, banyak dan sangat banyak.
Dan didalamnya, terjadilah proses negosiasi atau tawar menawar untuk mendapatkan barang, dengan suara keras, lembut, atau tak bersuara(naluri). Penjual ini, akan berbeda dengan penjual itu, dan akan beda dengan penjual lain, sehingga menghasilkan suara yang keras dan bercampur baur. Ini yang membikin pasar dikenal dengan padatnya orang berbelanja.
Tapi, dengan disadari, ternyata aku sudah hidup 14 tahun didalam pasar. Kenapa? Semasa aku sekolah, aku selalu diposisikan didalam kelas yang berisik, dan jarang untuk serius. Jangankan SMA, ketika SD sajapun aku sudah bersama dengan lingkungan pasar. teman-teman yang selalu ribut, lasak, dan membicarakan hal-hal tidak penting, itu sudah biasa ku temui. Bahkan, untuk bertemu dengan teman-teman yang pendiam, atau serius saja aku jarang. Ya memang cuma aku yang pendiam, walau demikian, diamku tak pernah tertular keteman-teman lain.
Ruang kelas itu seperti pasar, mau pagi, atau siang hari, suasana tak pernah sepi. Ketika guru didalam pun mereka tak diam. Perumpamaannya seperti sebuah pasar yang dirazia oleh Satpol PP untuk membubarkan pasar, namun para penjual dan pembeli dipasar tidak peduli. Hanya akan tetap melanjutkan kegiatan masing-masing. Seperti itulah kelasku. Aku pun lihat, kelas-kelas yang unggulan tingkat kebangetan itupun bisa seperti pasar, hanya saja mereka pasar Mingguan, yang hanya ibaratkan seminggu sekali buka. Bukan seperti kelas ku, yang setiap hari buka dan ramai.
Aku pernah sedih, ketika SMA akan segera berakhir, aku mengira bahwa akan beda rasanya ketika berkuliah, aku mengira mahasiswa itu adalah seorang siswa yang selalu serius, karena sudah memakai kata maha didepannya. Sangat sedih aku pada masa itu. Selang beberapa waktu, Masyaallah. Ternyata baru hari pertama saja aku dikelas perkuliahan itu, berisik suara keras dan jelas terdengar.
Lagi dan lagi, aku diposisikan didalam pasar. Perkiraan ku selama pra kuliah salah, aku mengira bahwa mereka teman-temanku, akan serius belajar dan menjadi orang yang kaku karena jurusan yang kami pilih adalah Fisika; akan keras. Tapi sangat disayangkan, perkiraanku salah lagi. Mereka tak sepolos yang ku mimpikan, tak sediam yang ku khayalkan.
Aku harap, mereka, atau semua lingkungan yang ada aku didalamnya, akan tertular diamnya diriku ini ke diri mereka. Jangan lepas semangat, akan baik jika menjadi pasar mingguan. Karena orang lain akan segera dan selalu menantikan agar pasar dibuka. Kalau pasar harian, akan bosan, dan mudah lelah. Mungkin itu. Semangat, Hidup didalam Pasar.
#Day10
#pasar
#CeritaRamadanku
#29haringeblog
Komentar
Posting Komentar