Langsung ke konten utama

Konsistensi Amalan Melalui Pengajaran Tasawuf




Konsistensi Amalan
Melalui
Pengajaran Tasawuf

 

 
Penulis :
Isma Hidayati            0705162008 (2016)
Dosen Pengampu :
Dr. Ja’far, MA

FISIKA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UIN SUMATRA UTARA
2017/2018



Konsistensi Amalan Melalui Pengajaran Tasawuf
Sudah menjadi hal lumrah bagi mahasiswa yang berkuliah di Universitas Islam dalam mengkaji ilmu – ilmu keislaman. Terlebih pada mahasiswa yang duduk pada jurusan agama islam. Namun tidak menutup kemungkinan bagi jurusan umum seperti pada Fakultas Sains dan Teknologi untuk tidak mempelajari dan mendalami tentang Islam, mahasiswa dengan jurusan umum pun bahkan sangat diperlukan dalam mempelajari ilmu – ilmu keislaman, agar nantinya mahasiswa dapat membedakan pengajaran jurusan umum dan dengan pengajaran islam. Melalui tulisan ini, penulis berupaya mengajak pembaca dan segelintir ummat untuk kembali kepada ilmu kajian islam, yaitu melalui ajaran para sufi, atau tasawuf.
Tasawuf, kata yang sering didengar oleh kalangan ummat namun kebanyakan dari kita belum memahami secara menyeluruh tentang tasawuf karena belum seluruhnya mendapat pengajaran. Tasawuf dibagi menjadi empat pengertian, seperti yang tertulis pada kitab Kasyf al-Mahjub oleh al-Hujwiri, bahwa tasawuf berasal dari kata al-shuf, al-shaf, al-shuffah, dan al-shafa’. Pertama, al-shuf artinya wol. Dikatakan sufi, karena para sufi mengenakan jubah yang terbuat dari bulu domba, dan dibuat menjadi kain wol. Sufi memilih wol menjadi pakaiannya karena sufi meyakini bahwa Allah menyukai kesederhanaan seorang hamba. Sufi tidak mencerminkan dirinya mencintai harta, melainkan lebih memilih sederhana dengan mengenakan wol. Kedua, al-shaf yang memiliki arti barisan pertama. Barisan pertama memiliki maksud bahwa para sufi berada di barisan pertama didekat Tuhan, terlihat jelas bahwa maksudnya ialah sufi memiliki keyakinan dan besarnya hati untuk lebih dekat dengan Allah SWT.
Ketiga, istilah tasawuf berasal dari kata ahl al-shuffah karena para sufi mengaku sebagai golongan ahlal-shuffah yang diridhai Allah. Mereka disebut sufi karena sifat-sifat mereka menyamai sifat-sifat orang yang tinggal di serambi masjid (shuffah) yang hidup pada masa Nabi Muhammad saw. Keempat, istilah tasawuf berasal dari kata al-shafa yang artinya kesucian, sebagai makna bahwa para sufi telah menyucikan akhlak mereka dari noda-noda bawaan, dan karena kemurnian hati dan kebersihan tindakan mereka.

Setiap ilmu tentu memiliki tujuan, sama halnya dengan tasawuf, tujuan dengan mempelajari tasawuf ini ialah memperoleh hubungan langsung dengan Allah SWT, merasa dekat dengan Allah SWT, bahkan merasa berada dikhadirat Allah SWT. Karena bertasawuf berarti melakukan proses pendakian spritual yang sangat panjang dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Melihat dari tujuan dan pengertian tasawuf diatas, tidak menutup kemungkinan bagi kita untuk tidak meragukan dengan pembelajaran dan pendalaman tentang tasawuf dengan benar. Karena dilihat dari tindakan para sufi yang lebih mementingkan urusan akhirat dari pada dunia dapat membuka hati kita untuk konsisten dalam menjalani hidup yang sejalan dengan aturan islam.
Dalam Al-Alqur’an juga menegaskan bahwa manusia diciptakan dengan suatu tujuan tertentu seperti syahada, ibadah, khalifah, dan hasanah. Dalam shahih al-Bukhari dan shahih Muslim, disebutkan hadist mengenai al- islam,al- iman, dan al-ihsan. Hadist tersebut menjelaskan bahwa ketiga istilahnya membentuk suatu hierarki beragama. Seorang muslim tidak saja dituntut untuk  menjalankan al-islam dan al-iman, tetapi juga merealisasikan al-ihsan sebagai hierarki paling tinggi. Jadi al-qur’an dan hadist menghendaki umat islam dapat memantapkan ketauhidan dan ibadah dalam kerangka al-ihsan, dan mengimplementasikan tugas sebagai khalifah-Nya di muka bumi demi kebaikan dunia maupun akhirat kelak.
Dalam mempelajari tasawuf, tentu hati(qalb) manusia kini berperan penting. Karena hati merupakan sarana untuk menemukan ilmu lebih banyak. Ahmad Mubarok telah menemukan konsep Al-quran tentang fungsi,potensi, kandungan, dan qualitas hati manusia.disebutkan bahwa dari segi fungsi menurut Ahmat Mubarok qalb berfungsi sebagai” alat untuk memahami realitas dan nilai-nilai serta memutuskan suatu tindakan ( q.s Al-araf : 179 ),” sehingga qalb menjadi identik dengan akal .disebutkan bahwa ada delapan potensi hati , yakni hati iti bisa berpaling ; merasa kecewa dan kesal ; secara sengaja memutuskan untuk melakukan sesuatu ; berprasangka ; menolak sesuatu ; mengingkari; dapat diuji ; dapat ditundukkan; dapat diperluas dan dipersempit bahkan bisa ditutup rapat .
Sedangkan kondisi hati manusia bemacam-macam, sebagai bersifat positif seperti hati yang bersih ( qalb saling), hati yang bertoubat ( qalb munib ), hati yang tenang ( qalb muthma’in ), hati yang menerima petunjuk ( yahdi qolbih ), dan hati yang takwa ( takwa al qulub ). Dan hati dalam keadaan suci semacam itu mendapat keutamaan, yaitu dapat memahami ilmu, mendapat ilham dari Allah dan mengetahui hal-hal ghaib yang tak bisa dilihat semua manusia. Menurut Al-Ghazali, hati dapat meraih ilmu mengenai banyak hal manakala ia memiliki sifat-sifat Rabbaniyah dan hikmah. Hati akan menjadi suci ketika dihiasi oleh sifat-sifat ilahiah, cahaya iman. Dan jika hati memang adakala belum dapat dikatakan suci hingga sulit menerima ilmu, Al-Ghazali juga paparkan bahwa ada lima penyebab hati yang meraih ilmu, yaitu kekurangan hati, yaitu hati menjadi kotor akibat mengikuti hawa nafsu sehingga selalu berbuat maksiat dan perbuatan keji, hati dipalingkan dari kebenaran karena tidak mau mencari kebenaran, banyak tunduk terhadap prasangka, dan kebodohan dalam mengetahui arah kebenaran akibat penyelewengan ilmu dan tidak mengetahui manfaat mencari ilmu.
Sufi juga menyusun teori mengenai usaha-usaha untuk menempuh perjalanan spiritual berupa tangga-tangga pendakian spiritual yang disebur al-maqamat. Hakikat al-maqamat dapat dilihat dari karya-karyanya yang biasanya diiringi kajian tentang ahwal, sebab keduanya tidak dapat dibahas secara terpisah. Abu al-Najib Suhrahwardi dan al-Qusyairi memberikan penjelasan mengenai al-maqamat dan al-ahwal. Dalam adab al-Muridin, Abu al-Najib al-Surawardi, al-maqamat adalah tingkatan spiritual seorang hamba dalam ibadah dihadapan Allah SWT. Dalam Risalah al-Qusyairiyyah, al-Qusyairi bahwa al-maqamat adalah tingkatan spiritual yang akan diraih salik dengan jalan mujahadah dan mengamalkan adab-adab, perilaku, dan sikap tertentu, serta riyadhah. Menurutnya, seorang salik tidak akan dapat mennaiki maqam selanjutnya sebelum berhasil menjalani dan memperoleh maqam sebelumnya. Setiap salik harus menjalani peraturan-peraturan secara konsisten untuk mendapat suatu maqam tertentu. Misalnya, seorang salik harus melakukan ritual mistis secara konsisten demi mendapatkan maqam wara’ sebelum memulai usaha untuk mendapatkan maqam al-zuhud.
Sedangkan Al- ahwal merupakan keadaan hati seorang salik yang bukan merupakan hasil usahanya sendiri, melainkan pemberian dari Allah swt. Kaum sufi telah merumuskan al-maqamat dan al-ahwal dalam karya-karya mereka. Al-Thusi (w.988M) menyebutkan bahwa tingkat al-maqamat adalah diawali dari tobat (al-taubah), warak (wara’), zuhud (al-zuhd), kefakiran (al-faqr), sabar (al-sahbr), tawakal (al-tawakkul), kerelaan (ar-riddho), dan menurut Abu al-Najib al-Surahwardi (w.1186) adalah al-intibah, al-taubah, al-inabah, al-wara’, al-muhasabah, al-nafs, al-iradah, al-zuhd, al-faqir, al-shidq, al-tashbir, al-sahbr, al-ridha, al-ikhlash, dan al-tawakkul. Al-Kalabazi (w.995M) menulis bahwa tingkatan maqamat adalah diawali dari taubat (at-taubah), zuhud (al-zuhd), sabar (al-sahbr), kefakiran (al-faqr), rendah hati (tawadhu),tawakal (al-tawakkul), kerelaan (al-ridha), cinta (al-mahabbah) dan ma’rifat (al-ma’rifat). Al-Qusyhairi (w.1073M) menyebutkan bahwa tingkatan al-maqamat adalah diawali dari taubat (al-taubah), warak (wara’), zuhud (al-zuhd), tawakal (al-tawakkul), sabar (al-sahbr) dan kerelaan (al-ridha). Al-Ghazali (w.1111M) menyebutkan bahwa tingkatan al-maqamat adalah diawali dari taubat (al-taubah), sabar (al-sahbr), kefakiran (al-faqr), zuhud (al-zuhd), tawakkal (al-tawakkul), cinta (al-mahabbah), dan kerelaan (al-ridha).
Perlulah bagi kita sebagai ummat muslim dapat menjaga konsisten dan keistiqamahan kita dalam mencari amalan dibumi Allah, yaitu dengan melalui pengajaran dari para sufi dalam kajian tasawuf. Bukan hal yang aneh rasanya dalam menjalani kehidupan kita mencontoh apa yang telah dicontohkan para sufi, pengajaran dalam berbuat amalan soleh dapat dilihat dan ditunjau dari maqam-maqam yang dilalui. Dengan belajarnya kita dengan mengikut dan menjalankan kehidupan sesuai dengan maqam yang terendah hingga tertinggi, insyaallah ibadah kita tidak lagi diragukan, karena kita hanya mengenal Allah, kemarin, hari ini, besok, dan selamanya. Allahhumma Aamiin Ya Robb.




DAFTAR PUSTAKA
 Ja’far,  Gerbang Tasawuf, (Medan: Perdana Publishing, 2016)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Sikap diDepan Kue Raya

Ada istilah, orang zaman dulu dan orang zaman sekarang. Kalau orang zaman dulu tandanya dia sudah tua dizaman sekarang. Dan orang zaman sekarang, dia sudah modern, tidak seperti orang zaman dulu yang dikenal kuno. Dalam tradisi hari raya idul fitri, juga sering terlintas kalimat yang barangkali tak sengaja ditutur " Dari tahun ketahun ini aja kuenya". Tak perlu menggeleng, ini hanya untuk yang sependapat denganku. Hal yang ditunggu bagi orang yang halal-bihalal selain THRnya, ialah melihat kue-kuenya. Yang tersaji diatas meja dengan sajian unik diatas tempat kue. Entah itu tempat kue kaca, ataupun plastik. Kalau kalian semodel atau sesikap denganku, apa yang pertama kalian lakukam ketika sampai ketempat saudara atau tetangga? Aku menjawab, aku akan membuka semua tutup tempat kue yang ada didepanku. Itu sudah ku anggap tradisi setiap datang kerumah-rumah. Sejak kecil, kebiasaan itu terus terjadi sampai aku dewasa seperti ini. Bukan perihal aku doyan dan aku memakan semuany...

Bukan Sekadar Maaf

Lebaran, merupakan klimaks nya umat muslim disaat bulan ramadan. Banyak hal yang sudah dilewati setiap muslim selama berpuasa. Dan perihal ibadah selama dibulan ramadan, mari kembalikan kepada Allah. Jika membahas soal lebaran, apa yang tersirat selain baju baru, thr, dan mudik? Benar, itulah tradisi bermaaf-maafan. Aku pernah bertanya kepada seorang temanku, kenapa dia kemaren meminta maaf atas semua kesalahan yang ia perbuat terhadapku, namun setelahnya ia kembali lagi membuat kesalahan yang itu bukan tanpa disengaja. Kenapa? Dan dengan singkat dia menjawab,  "Kan kemarin lebarannya". Aku terdiam,  dan hanyut pada kebingungan. Sampai sekarang, aku tak pernah lagi menanyakan hal demikian kepada temanku yang lainnya. Malah yang ada, aku takut mendapat kalimat demikian lagi. Kalau soal lebaran, dalam islam juga dikatakan bahwa lebaran itu mempertandakan bahwa kita umat islam akan segera kembali ke fitrah. Tanda bahwa kita akan menjadi muslim yang baru. Maka dari itu semua ...

Perempuan, Aku Tau Kita Rumit. Tapi Jangan Menyusahkan.

Benar-benar lelah harus bagaimana merespon perempuan.  Benar-benar kesal bagaimana bertanya tanpa menyinggung perempuan.  Benar-benar heran bagaimana menjawab tanpa menyakiti perempuan.  Dan benar-benar letih, bagaimana sebaiknya bersikap di atas kata Hargai Perempuan. Tapi,  "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13) Bukan hanya perkara berpasangan dengan perempuan, tapi hubungan dengan ibu, teman, saudari, keluarga perempuan, pasti selalu menemukan hal-hal yang bikin, "Segitunya jadi perempuan". Siapapun, kita butuh perempuan. Siapapun kita butuh sosok ibu. Siapapun, kita butuh kita menjadi perempuan yang benar-benar paham akan kodrat, tanggungjawab, dan sebenarnya tak...